Review Buku Filosofi Teras (Part 1)

Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring ini banyak mengajarkan kepada kita cara hidup lebih tenang tanpa peduli pendapat orang lain. Bagi Anda yang mudah baper, sensitif, mudah merasa cemas dan khawatir, buku ini cocok untuk mengubah mindset kita.

Berawal dari pengalaman pribadi mengapa saya jadi lebih sering membaca buku-buku psikologi, terutama tentang self improvement, karena banyak kejadian hidup yang sulit saya mengerti dan akhirnya saya tidak bisa mengatasi perasaan dan pemikiran diri saya sendiri. Maka saya memutuskan untuk belajar sendiri tentang apa yang sebenarnya saya rasakan, mengapa orang lain selalu terlihat lebih bahagia dari saya, mengapa orang lain terlihat lebih sukses daripada saya. Apalagi kehadiran media sosial pun mempengaruhi bagaimana kita melihat kehidupan orang lain. Padahal yang terjadi adalah media sosial tidak sepenuhnya menghadirkan gambaran utuh tentang keseharian seseorang, hanya bagian-bagian tertentu saja. Kebetulan saja orang lain lebih sering posting tentang apa yang membuat dia bahagia. 

Review Buku Filosofi Teras

Henry Manampiring pun menulis Buku Filosofi Teras hasil dari pembelajarannya tentang Stoisisme. Stoisisme ini lebih dikenal dengan paham Stoa yang sudah hadir sejak 2.000 tahun yang lalu pada masa Yunani Kuno. Namun ilmunya masih sangat relevan dengan kondisi kehidupan saat ini. 

Apa itu Stoisisme ?

Istilah ini memang terdengar asing ditelinga kita orang-orang Indonesia, selain pengucapannya sendiri yang cukup sulit. Pada intinya stoisisme ini adalah sebuah paham yang mengajarkan pada manusia untuk lebih bersikap rasional, yaitu dengan membedakan apa yang bisa kita kendalikan dan tidak bisa kita kendalikan.

Kedua perbedaan itulah yang menjadi pokok pembahasan dari review buku Filosofi Teras. Henry Manampiring kemudian menggunakan istilah teras agar lebih mudah diingat, selain arti stoa sendiri sebagai perilaku emosi seseorang.

Permasalahan Kehidupan Manusia

Permasalahan manusia itu sebenarnya tidak jauh-jauh dari apa yang dia pikirkan sehingga mempengaruhi perilaku atau respon terhadap sesuatu keadaan. Terkadang pikiran atas kejadian yang belum terjadi itu membuat manusia malahan lebih tersiksa daripada menghadapi kenyataannya. Jadi bisa dibilang pikiran negatif manusia hanya memperparah kondisi yang sebenarnya tidak begitu menyakitkan baginya.

Oleh karena itu Henry Manampiring sangat tertarik untuk membuat pembahasan tentang apa sih yang seharusnya manusia pikirkan tentang kehidupannya. Jangan-jangan segala macam persoalan hidup kita hanya satu sumbernya, yaitu pemikiran kita sendiri yang kurang tepat.

Pemikiran negatif hanya akan mendorong rasa cemas dan khawatir (anxiety) yang sebenarnya tidak perlu. Jika dipikir secara logis, mengapa kita buang-buang waktu untuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Pada akhirnya membuat hidup kita selalu merasa cemas saja. Hal ini yang menjadi pemicu beberapa penyakit fisik yang tubuh kita rasakan. 

Buku Filosofi Teras memberitahu kepada kita bahwa kita hanya bisa mengendalikan hal-hal yang berada di bawah kendali kita, yaitu persepsi, opini, pemikiran, dan perilaku kita. Di luar itu adalah hal-hal yang berada di luar kendali kita. Sehingga tidak tepat jika kita mengukur kebahagiaan hidup kita hanya berdasarkan apa yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan, contohnya : kesuksesan, kekayaan, kesehatan, karier, jabatan, dll.

Review Buku Filosofi Teras : Kebahagiaan Sejati Terletak Pada Diri Kita

Kita hanya bisa mengendalikan apa yang ada pada diri kita. Misalnya saat kita terjebak kemacetan, jika biasanya kita cepat merasa emosi, penuh rasa cemas karena takut terlambat, takut klien lari, maka kita harus mengubahnya karena kondisi ini tidak sehat bagi jiwa dan raga kita. Setelah Anda membaca Buku Filosofi Teras tersebut Anda bisa belajar mengubah mindset Anda menjadi pribadi yang lebih tenang, kalem, tidak mudah emosi, dan penuh pemikiran positif. 

Kuncinya adalah bagaimana kita berpikir, memberikan persepsi pada keadaan yang tidak mengenakkan, dan tidak perlu bergantung pada opini orang lain. Kita tidak bisa mengubah pemikiran orang lain, maka ubah lah pemikiran kita terhadap orang tersebut. Dengan begitu kita pun bisa mengendalikan emosi kita.


Review buku Filosofi Teras ini saya buat untuk berbagi kepada Anda yang sedang mengalami perasaan - perasaan negatif, dan Anda pikir tidak ada yang bisa mengerti Anda. Anda yang selama ini susah merasa bahagia, Anda perlu membaca buku ini agar hidup menjadi lebih bahagia dan tenang.

Posting Komentar untuk "Review Buku Filosofi Teras (Part 1)"