Cerpen "Cinta dan Rahasia"


Sebuah cerpen ini saya tulis untuk Buku Antologi "Kisah Kita" di bawah bimbingan Ibu Deka Amalia. Di dalam buku tersebut juga masih banyak cerita dari penulis lainnya yang tidak kalah seru, ada beberapa genre yang meramaikan suasana hati pembaca. 


 

CINTA DAN RAHASIA

Oleh : Caysa Praditha

Malam itu Keenan kembali mencoba menghubungi istrinya yang sedang berada di luar kota. Dia sebenarnya ingin istrinya lebih banyak pekerjaan di Jakarta karena anaknya masih terlalu kecil untuk ditinggal. Benny masih membutuhkan ASI dari ibunya.

"Hallo, sayang! Kau sedang apa di sana?", Keenan mencoba membuka percakapan melalui telepon.

Suara di seberang pun segera menjawab,"Aku masih ada scene 3 lagi malam ini. Kamu bisa urus Benny sendiri kan tanpa harus menelepon setiap saat seperti ini?"

Sambil menghembuskan nafas pelan Keenan menjawab,"Officially, I miss you. Besok aku akan susul kamu ke Bandung, dear". Keenan berusaha untuk tidak memicu pertengkaran melalui telepon malam itu.

Esoknya setelah subuh, Keenan memutuskan untuk menyusul ke Bandung membawa beberapa botol ASI untuk dapat diisi kembali oleh Fayola. Keenan menitipkan Benny kepada asisten rumahnya.

Setelah sampai di Bandung, Keenan menghubungi Fayola untuk menanyakan lokasinya saat ini. Namun jawaban Fayola tak kunjung datang, telepon pun tak diangkat. Keenan berpikir untuk menghubungi teman seprofesi Fayola yang juga ada dalam project film tersebut.

"Hallo, Fer. Kebetulan gue lagi di Bandung ni, cuman kurang paham sama lokasi Fayola sekarang", Keenan coba menjelaskan. "Gue udah coba hubungi dia, tapi belum dijawab", tambah Keenan.

"Oh, kalau gitu lo samperin aja ke hotel tempat dia nginep. Ni gue kasih alamat hotelnya ya, gue send ke WA lo, Keen".

"Okay, thank you, Fer". Keenan lalu membuka WA dan langsung menuju hotel yang disebutkan oleh Ferdy.

***

Keenan bertanya nomor kamar Fayola pada resepsionis hotel. Tepat di depan kamar nomor 307, Keenan berhenti dan mengetuk pintunya. Beberapa menit tidak ada jawaban dari dalam kamar. Keenan menunggu lebih lama sambil terus mengetuk pintunya. Dan akhirnya pintu terbuka.

Seorang lelaki berperawakan tubuh altetis membukakan pintu itu dan bertanya pada Keenan, "Ya...siapa Anda? Pagi-pagi seperti ini sudah membangunkan orang saja".

Keenan berpikir apakah dia salah kamar, tapi tunggu dulu. Keenan melihat ada sepatu milik Fayola berada di lantai dekat dengan pintu. Keenan pun mencoba menjawab, "maaf, saya bisa ketemu dengan Fayola?"

Mendengar namanya disebut, Fayola pun terbangun dan pelan  pelan beranjak dari tempat tidur. Sambil sempoyongan, dia berjalan mendekati pintu. Fayola yang hanya sempat meraih jaket rajut disamping tempat tidurnya kini sudah berdiri di depan Keenan dan meraih tangan seorang pria yang membukakan pintu tadi sambil berkata, "untuk apa kau datang kemari, Keen?".

Keenan pun menyerahkan botol  botol ASI kosong yang ada dalam tasnya kepada Fayola dan berkata,"aku ingin kamu bisa mengisi botol  botol ASI ini untuk Benny".

Ya...hatinya teriris menghadapi kenyataan pagi ini. Aku ingin kamu pun bisa pulang ke rumah dan kita menjaga Benny bersama, batin Keenan dalam hati.

Pria di samping Fayola menjawab,"Fay, lelaki ini suamimu atau kurir yang suamimu suruh kemari?". Sambil berkelakar dia menarik badan Fayola ke belakang dan mencoba mendorong Keenan keluar dari pintu kamar.

Fayola pun menambahkan,"Keen, hidup denganmu karierku tak bisa berkembang. Aku rasa kau dan Benny hanya membuat beban hidupku bertambah. Aku ingin kita cerai".

Dan pintu itu pun tertutup untuk Keenan.
Keenan berjalan gontai menuju lift untuk turun dan segera keluar dari hotel itu. Keenan bertanya dalam hatinya, apakah ini akhir dari dirinya dan Fayola. Hatinya bersungut mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, tetapi dia pun tak bisa mengungkapkannya. Kali ini janjinya pada Benny tak bisa dia tepati.

Tiba  tiba pandangan Keenan kabur dan dia sempat melihat sebuah mobil dari arah depan sedang melaju ke arahnya sambil membunyikan klakson keras. Setelah itu Brukkk.... Keenan tak sadarkan diri lagi.

***

Rasa cintanya pada Fayola pupus sudah. Dia membayangkan masa depan Benny yang tak akan lagi mendapatkan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya. Keenan pun teringat masa lalunya ketika itu. Keenan kecil yang merasa bimbang, tak pernah sekalipun dia rasakan berlibur bersama kedua orang tuanya seperti teman-teman yang lain. Keenan kecil dititipkan kepada neneknya. Setelah beranjak dewasa, Keenan memilih untuk hidup sendiri dan melampiaskan kebimbangan hatinya pada minuman keras dan mulai menato beberapa bagian tubuhnya. Satu hal yang tak pernah dia ingin coba lakukan, yaitu mempermainkan perasaan wanita.

Hidupnya tak bisa seperti ini terus. Dia ingin berubah, demi kebaikan masa depan Benny. Setidaknya dia ingin Benny tumbuh besar tanpa merasa tak ada siapa pun yang menemaninya. Keenan ingin selalu ada di samping Benny setiap waktu Benny butuh dirinya.

Keenan mendaftarkan diri pada Badan Intelijen Negara dan akhirnya diterima. Tugas pertama Keenan adalah menyelidiki jejak koruptor di Pakistan. Dia pun membawa Benny ke Pakistan dan memulai hidup baru di sana. Dalam misi penyelidikan terhadap koruptor itu, Keenan harus menyamar menjadi relawan kegiatan sosial sebuah organisasi di Pakistan. Di sana dia harus mendapatkan banyak informasi dari mantan istri koruptor yang juga bekerja menjadi relawan. Wanita itu bernama Muniba. Dia adalah narasumber utama dari Keenan, sumber kunci yang mengetahui seluk beluk koruptor.

***

Saat Keenan bertugas di Pakistan, dia mendapat kabar dari adiknya, bahwa ayahnya sakit keras di Indonesia. Ayah Keenan, Jordy, ingin bertemu dengan Keenan. Keenan pun akhirnya ijin untuk bisa pulang ke Indonesia untuk menengok ayahnya.

"Ayah, Keenan pulang", Keenan coba membangunkan ayahnya yang masih memejamkan matanya.

Jordy perlahan membuka matanya dan melihat Keenan di sampingnya. "Keenan, maafkan ayah. Selama ini ayah menyembunyikan identitas ibu kandungmu yang asli. Sebenarnya bukan lah Ibu Melisa yang kau panggil Bunda, tetapi ibu kandungmu adalah Katrina, perempuan asli Pakistan".

"Kenapa ayah? Kenapa ayah baru kasih tahu ke Keenan sekarang?", tanya Keenan.

"Karena ibu kandungmu telah tiada tepat 10 hari setelah dia melahirkanmu, Keen" jelas Jordy.

Keenan segera keluar dari kamar ayahnya. Dia masih tak mengerti maksud dari perkataan ayahnya itu. Kejujuran ayahnya seperti mengungkap tabir apa yang sebenarnya dia resahkan selama ini. Keenan kecewa terhadap ayahnya.

Akhirnya Keenan memutuskan untuk kembali ke Pakistan untuk melanjutkan tugasnya. Dan dia pun mencari tahu keberadaan keluarga ibu kandungnya di Pakistan.

***

Aktivitas selama di organisasi membuat Keenan dan Muniba pun semakin dekat. Keenan banyak bercerita tentang kehidupannya di Indonesia kepada Muniba. Muniba yang menerima kehadiran Keenan, begitu juga Keenan yang melihat sosok Muniba sebagai seorang wanita yang anggun dan tangguh. Dan Keenan pun jatuh cinta.

Siang itu Muniba mendapati laptop Keenan yang masih terbuka di meja ruang rapat. Dia berniat untuk menutup laptop Keenan dan membawakannya, mungkin saja Keenan lupa membawanya pikir Muniba. Namun dia melihat dokumen yang sedang diketik oleh Keenan, sekilas terdapat tulisan yang menyebutkan nama mantan suaminya.

Dia masih membaca dokumen yang ditulis oleh Keenan sambil meneteskan air mata hingga tak sadar bahwa Keenan sudah ada di belakangnya. Kemudian dia menjauhi laptop itu dan Keenan. Muniba menutup mata dengan tangannya, mencoba menyembunyikan isak tangisnya. "Aku tak percaya kau melakukan ini padaku. Kamu memang manusia tak punya hati".

Keenan mencoba menenangkan Muniba dan menjelaskannya, "Muniba, maafkan aku. Aku tidak pernah berniat jahat terhadapmu".

Penjelasan Keenan tak diindahkan oleh Muniba, Muniba bergegas keluar dari ruang rapat. Dan mulai hari itu Keenan tak bisa menemui Muniba lagi. Muniba selalu menghindar dari Keenan.

Di sisi lain, akhirnya Keenan mendapatkan informasi bahwa ibu kandungnya dibunuh oleh keluarga sendiri. Tradisi membunuh kerabat sendiri ini di Pakistan dikenal dengan Honour Killing. Karena ibu kandung Keenan nekat menikah dengan pria yang bukan pilihan keluarganya, yaitu Jordy, ayah Keenan.

Keenan merasa terpuruk oleh kenyataan itu. Dia tak terima ibu kandungnya meninggal secara mengenaskan seperti itu. Dia kecewa terhadap ayahnya yang tidak mau menyelamatkan nyawa ibunya. Andaikan ayahnya tidak memilih melarikan diri dan meninggalkan ibunya. Pikiran  pikiran itu terus ada di benak Keenan.

***


Muniba pun masih belum bisa menerima penjelasan Keenan. Muniba masih merasa sakit hati terhadap apa yang telah dilakukan Keenan. Menurut Muniba semua itu adalah rancangan Keenan demi mendapatkan informasi mengenai mantan suaminya, termasuk kedekatan mereka selama ini. Meski Muniba merindukan dekat dengan Benny, anak Keenan.

Disaat yang lain, Keenan semakin bimbang. Kedekatannya dengan Muniba yang selama ini membuatnya nyaman harus berakhir karena misinya pun telah selesai. Dia tak mungkin melanjutkan hubungannya dengan Muniba karena Muniba adalah narasumbernya. Sesuai peraturan institusinya, seorang agen tidak boleh memiliki hubungan dengan narasumbernya. Namun yang membuat hati Keenan sakit karena Muniba masih mengganggap dirinya selama ini telah membohongi Muniba. Dan pernyataan cinta dari Keenan pun dianggap palsu.

Keenan kembali teringat pada Benny. Benny yang selama ini pun telah dekat Muniba, bahkan Muniba sudah seperti ibu bagi Benny. Dia membayangkan masa depan Benny jika memiliki ibu seperti Muniba. Dia tak ingin Benny seperti dirinya. Biarlah kelak Benny tahu bahwa ibu kandungnya tak sebaik yang jadi harapannya, tetapi Benny layak mendapatkan yang lebih baik dari ibunya, tanpa ada yang dirahasiakan seperti apa yang telah ayahnya lakukan selama ini terhadap dirinya.

Masa depan cintanya lebih penting daripada kariernya. Dia tak ingin bersikap seperti Fayola dulu yang mengejar karier dan meninggalkan dirinya dan Benny. Dia pun tak ingin seperti ayahnya yang mengejar bisnisnya sendiri dan meninggalkan ibu kandungnya dalam penantian yang tak pasti.

Keenan memilih bertanggung jawab dan menyatakan sekali lagi pada Muniba. Dia mencoba menemui Muniba di kantornya. Sudah lebih dari sekali dia berpesan pada satpam dan resepsionis kantor untuk menyampaikan bahwa dia menunggu Muniba di lobi. Tak ada jawaban dari Muniba. Hingga jam kantor pun berakhir.
Seketika wajah wanita yang dia rindukan itu muncul dibalik lift. Dibalut dengan gaun panjang dan rambut yang terurai membuat Muniba memang menjadi wanita dambaan para pria. Tapi tak ada yang mau dan sanggup melanjutkan ketertarikan mereka pada wanita yang hanya bisa berjalan dengan kursi rodanya itu.

Ya...Muniba mengalami kecelakaan mobil bersama mantan suaminya waktu itu, tetapi mantan suaminya berhasil menyelamatkan diri. Kecelakaan yang membuat patah tulang belakang Muniba dan membuatnya tidak bisa memiliki anak. Keadaan itulah yang membuat mantan suaminya meminta cerai setelah 2 tahun pernikahan mereka.

Keenan bergegas menghampiri Muniba, "Muniba, tolong dengarkan penjelasanku sekali lagi. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku....".

Muniba memotong perkataan "Keenan,cukup Keenan, apa yang kamu lakukan terhadapku sudah cukup. Aku tidak ingin menambah kebencian ini semakin besar. Aku memang tak pantas untukmu, pun untuk laki  laki lain".

Aku sungguh  sungguh dengan perasaanku. Aku berhenti dari pekerjaanku. Aku tidak ingin menyakitimu lagi, Keenan mencoba menghentikan langkah kursi roda Muniba dan berlutut di depan Muniba.

"Sudah lah Keen. Dirimu tak malu berlutut seperti itu di depan wanita cacat ini?", tegas Muniba meski Keenan malah semakin menunduk.

Baik lah. Aku tak ingin dirimu berlutut seperti ini. Kita bisa bicara di tempat lain, Muniba memutuskan untuk menerima penjelasan Keenan.

Keenan segera berdiri dan membawa kursi roda Muniba ke sebuah taman dekat dengan kantornya. Di taman itu, Keenan kembali banyak bercerita tentang kedatangannya ke Pakistan. Aku datang ke kota ini, ke negara Pakistan ini memang awalnya untuk melaksanakan tugas sebagai agen. Namun ayahku sakit keras di Indonesia, dan aku harus kembali kesana. Di sana ayahku bercerita bahwa selama ini ibu yang ku kenal sebagai ibuku, bukan lah ibu kandungku. Ibu kandungku adalah seorang wanita Pakistan yang meninggal tepat setelah 10 hari melahirkanku. Ternyata ibu kandungku telah dibunuh oleh saudaranya sendiri. Keenan memulai bercerita.

Maksudnya ibu kandungmu adalah korban dari honour killing di Pakistan?, tanya Muniba.

Ya. Karena ibuku memilih menjalin hubungan dengan ayahku yang jelas lelaki asing dan bukan pilihan orang tua ibuku.
Sambil menggenggam tangan Muniba, Keenan mengungkapkan kesungguhan hatinya. Aku tidak ingin menjadi lelaki asing yang tidak jelas seperti ayahku. Aku rela meninggalkan pekerjaan ini dan menikahimu di sini.

Air mata Muniba mulai menetes jatuh perlahan. Sejak perceraian itu belum ada lelaki yang begitu berani melamar dirinya yang sudah bergantung dengan kursi roda. Kali ini air mata bahagia yang Muniba miliki, bukan lagi air mata kesedihan dan kekecewaan.

"Keen, kecelakaan itu yang telah mengubah hidupku, aku tak lagi bisa melahirkan anak seperti wanita lain. Aku ingin memiliki yayasan sosial yang bisa menampung banyak anak, terutama anak  anak yang menjadi korban tradisi honour killing. Karena yang mereka butuhkan hanyalah penerimaan. Kita bisa menerima mereka semua bukan?”. Senyuman optimis Muniba yang selalu membuat luluh hati Keenan.
Keenan pun menyambut keinginan Muniba itu. Ya..pasti. Bersamamu aku akan mengalihkan profesiku, tidak lagi menjadi agen rahasia negara, tetapi agent of change, yang bisa mengubah pemikiran orang  orang untuk lebih memandang manusia itu adalah manusia seutuhnya, bukan dari tradisi nenek moyang yang tidak memiliki nilai kemanusiaan.





Posting Komentar untuk "Cerpen "Cinta dan Rahasia""