Sebuah Cerpen Bagaimana Teman Bisa Menikung


Sebuah Cerpen untuk Antologi AE Publishing dengan tema "Teman Tapi Nikung". Akhirnya Buku Antologi Cerpen ini kami beri judul "Bila Mendua Jadi Pilihan". Tidak semua pilihan mendua adalah kesalahan, selalu ada alasan dibalik keputusan.


Only Heaven Knows

by : Caysa Praditha

Saat ini hidup bagiku seperti ajang lomba lari marathon. Ketika ambisi memenuhi ruang dada, saat itulah diri dituntut untuk berlari lebih cepat daripada yang lain. Bahkan untuk urusan cinta sekalipun.

Hubunganku dengan Raisa selama hampir 5 tahun ini pun pada akhirnya seperti sebuah ajang marathon. Semua harus serba cepat dan sempurna. Sempurna untuk menang. Bisa kah aku mengimbanginya?

Aku sadar, hidupku akan lebih monoton dan hampa tanpa ada dia di sisi. Aku selalu menikmati setiap ambisi yang dia hembuskan, setiap langkah yang dia ambil, dan setiap cita yang dia impikan. Bagiku dia wanita sempurna dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Jadi aku memilih untuk menjadi air baginya ketika dia tak mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Aku tak ingin dia kehausan saat berlari mengejar impiannya.

"Surpriseeee...! Happy birthday, Hunn. Wish you all the best ya". Raisa memberi kejutan dihari ulang tahunku. Pagi ini terasa spesial dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Padahal 1 jam sebelumnya saat aku hubungi dia sedang ada jadwal dengan klien sampai sore.

Ya...apapun pemberiannya, dia selalu berhasil membuatku bahagia. Bahkan meski hanya senyum yang dia berikan, itu cukup untuk membuat hariku berwarna.

"Terima kasih atas semuanya. Your love and yourself more than enough for me", kataku padanya.

"Sama-sama, Hunn. Tapi maaf ya nanti malam sepertinya kita gagal dinner karena aku ada klien yang minta konsultasi nanti jam 7 malam", ungkapnya dengan wajah penuh ambisi seperti yang biasa aku lihat.

"It's ok, beb. Aku rela jadi yang kedua demi apa yang sedang kau upayakan", kataku. Aku paham dia sedang mengejar posisi sebagai ahli psikolog bidang bisnis di kantornya.

Raisa dengan semangat mulai menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan klien itu. "Kamu tahu, Hunn. Dia itu pemilik perusahaan fashion terbesar di Jakarta dan kantor memilihku untuk mewakili menjadi konsultan bisnisnya. Kesempatan ini langka dan aku harus berhasil memberikan advice yang sempurna".

Aku pun ikut bahagia melihat ekspresinya yang cukup menggebu-gebu ketika dia menceritakan pekerjaannya. Meski itu artinya aku harus berlari untuk mengimbanginya.

"Hunn, coba deh kamu juga cari project besar yang bisa bikin kamu lebih famous dan jadi influencer buat industri kreatif," dia mulai memacuku untuk bisa melakukan sesuatu.

Aku pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum menanggapinya. Ingin rasanya aku pun bisa berambisi seperti dia. Namun industri kreatif ini tidak bisa dikerjakan dengan ambisi dan tergesa-gesa.

***

"Hai, Rend. Duh...yang lagi ultah kok nggak ada jadwal dinner ya", Rio coba menggodaku.

Aku menimpalinya," kita dinner di sini aja sambil ngegym. Kayaknya seru tuh!".

"As usual, Raisa sibuk ya?", tanyanya.

"Aku tak masalah dia sibuk. Tapi sepertinya dia juga ingin aku sibuk dan berambisi seperti dia", aku mulai terbuka pada Rio tentang bagaimana hubunganku dengan Raisa.

"Jadi Raisa pengen lo juga punya pekerjaan hebat seperti dia ya?".

"Ya...seperti itulah. Gue harus bisa mengimbanginya".

"Hahaha...jangan coba-coba lari Rend kalau kecepatan lo cuma segitu doank. Ntar lo jatuh", ucap Rio yang coba menertawakanku.

Ejekan-ejekan Rio terhadapku sering ku anggap ejekan biasa. Namun ketika aku sedang sendiri, kadang aku berpikir bahwa memang Rio punya pekerjaan yang lebih keren dariku. Sebagai seorang pebisnis dibidang otomotif dan juga pembalap nasional, dia lebih berambisi daripada aku. Kadang aku pun iri, tapi aku sadar bahwa kita punya karakter yang berbeda. Ambisinya membuat dirinya pun memiliki standar tinggi untuk pasangan hidupnya juga.

***

"Hai Raisa, will you spend the time with me today?", tanyaku lewat whatsapp.

"Hemm, it will be nice to meet you. Aku lagi pusing nih soal klien tadi malem", jawabnya.

Dan pertemuan itu diisi dengan keluh kesah Raisa yang gagal meyakinkan kliennya. Menurutnya advice yang dia berikan sudah sangat sempurna, tapi klien tidak setuju dan meminta berganti konsultan. Aku tahu dan aku paham dia sangat kecewa karena lagi-lagi tak sesuai harapannya.

Aku hanya bisa menenangkannya dan mengatakan,"it will be ok. Kamu akan dapat klien pengganti yang lebih membutuhkan advice kamu".

Namun tiba-tiba saja Raisa malah tambah marah dan berkata,"kamu tak pernah ada diposisiku. Karena pekerjaanmu biasa aja. Kamu tak mungkin bisa ikut merasakan betapa kecewanya aku. Kamu bukan laki-laki yang berambisi. Kamu tak pernah punya rencana hidup. Bahkan kapan kamu akan menikahiku juga belum jelas".

"Beb, ini soal pekerjaan yang kamu akan dapat klien lagi kan. Tak ada hubungannya dengan rencanaku melamarmu. Aku juga pasti punya rencana hidup, hanya saja aku tak ingin bertindak gegabah".

"Jika rencana menikahiku saja kamu anggap gegabah, penilaianku berarti benar tentangmu. Kamu tak pernah punya cita-cita dan ambisi dalam hidupmu. Untuk apa aku memilih pasangan sepertimu? Asal kamu tahu ya, hidup bukan selalu soal cinta". Dan Raisa pergi dari hadapanku.

Aku paham dalam kondisi seperti ini seringkali masalah pekerjaan terhubung dengan hubunganku selama ini dengannya. Malam ini dia mendapatkan kekecewaan ganda, dari klien dan dariku.

Sebenarnya aku belum bisa terbuka menceritakan kondisi keluargaku kepadanya. Aku tak ingin seperti ayahku yang gagal dalam hidupnya karena terlalu cepat mengambil keputusan. Kini dia harus hidup dengan tak berharga dan menanggung banyak hutang. Aku tak ingin sepertinya.

***

Aku pun tak pernah tahu bahwa selama ini Rio juga menggunakan jasa Raisa untuk jadi konsultan bisnis otomotifnya. Aku tahu ketika Bunga, adikku, yang memberitahuku sewaktu dia pergi dengan teman-temannya ke sebuah mall.

"Kak, teman kakak itu yang sering ngegym bareng kakak siapa namanya?".

"Rio", jawabku.

"Nah iya, Rio. Kapan itu aku lihat Rio di mall lagi makan siang sama Raisa. Tapi waktu itu aku liatnya nggak berdua kok, ada satu lagi temen kantor Raisa mungkin", ungkap Bunga coba menceritakan apa yang tadi siang dia lihat.

Aku memang tidak pernah mengenalkan Raisa secara langsung dengan Rio, begitu juga sebaliknya. Karena mereka berdua selalu punya jadwal padat. Suatu saat aku ingin ajak mereka ketemu tapi waktunya belum klop.

Selama ini Rio hanya sering dengar cerita tentang Raisa dariku saja. Tapi dia juga tak pernah cerita jika mengenal Raisa. Waktu itu aku sempat memberitahu Rio foto Raisa. Sebagai lelaki tentu aku bangga punya kekasih seperti Raisa. Makanya waktu itu aku terlalu percaya diri memberitahu Rio seperti apa Raisa. Selalu dengan mengenang tentang Raisa, bisa membuatku tersenyum bahagia. Seperti saat ini.

Kuabaikan cerita adikku tentang Rio dan Raisa yang bertemu di mall. Ku pikir mungkin ada urusan bisnis. Jika waktunya sudah tepat, aku bisa tanya Rio atau Raisa secara langsung.

Jujur saja jika dibandingkan pekerjaan Rio, memang industri kreatif yang aku geluti saat ini tidak sepopuler dirinya yang sebagai pemilik bisnis otomotif dan sekaligus pembalap. Pastinya posisi pekerjaan dan hobi Rio yang ini menjadi idaman para wanita.

Namun pernah aku bertanya pada diriku sendiri, ingin jadi seperti apa aku ini. Peluang untuk memiliki pekerjaan hebat memang selalu terbuka. Kembali lagi pada niat dan passionku sendiri, aku lebih suka membuat hal sederhana menjadi luar biasa. Seperti projek 'terima kasih' yang sedang aku kerjakan saat ini. Di jaman ini sangat sulit kita temui orang yang lebih banyak mengucapkan terima kasih. Mereka lebih suka komplain terhadap sesuatu yang diluar harapan mereka. Terima kasih juga sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Sang Pencipta, sekecil apapun itu pasti ada makna bagi kehidupan kita. Karena aku sendiri percaya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua adalah takdir-Nya. Dan pekerjaanku ini adalah pemberian-Nya juga yang di dalamnya ada rejeki dari-Nya. Buat apa kelihatan hebat dimata orang-orang, tapi aku sendiri tidak menikmati pekerjaan itu.

***

Tibalah pada suatu sore dimana aku dan Raisa membuat janji untuk bertemu. Setelah pertengkaran terakhir itu memang Raisa sedikit berbeda dari biasanya. Mungkin pembahasan pernikahan itu yang masih membuat dia berpikir. Aku pun juga berpikir untuk merencanakan waktu yang tepat untuk melamarnya. Orang tua Raisa pun sudah sangat baik denganku. Bahkan aku banyak belajar tentang Islam dari ayahnya.

"Rend, sepertinya kamu harus berpikir ulang tentang hubungan kita", Raisa langsung membuka obrolan dengan kalimat yang menurutku tanpa basa basi lagi. Dan tidak tak lagi memanggilku Hunn, seperti biasanya. Aku mulai merasa hatinya belum membaik.

"Iya, aku juga sudah berpikir untuk lebih cepat melamar kamu", jawabku segera.

"Bukan, maksudku... menurutku hubungan kita sudah tidak bisa dilanjutkan lagi deh". Aku tatap wajahnya, bagaimana bisa dia bicara seperti itu dengan santai.

Dan tiba-tiba ada Rio di belakangku dan dia berkata,"benar Rend, sorry Raisa akan segera jadi istriku. Aku sudah datang pada orang tuanya kemarin malam. Dan Raisa juga setuju, tapi dia minta waktu untuk ngomong sama kamu karena kalian belum resmi putus".

Seperti ditusuk dengan pisau hati ini mendengar berita ini dari Rio dan tepat di hadapanku pun ada Raisa. Aku masih ingin mempertahankan hubunganku dengan Raisa.

"Sorry Rio, aku nggak ngerti apa maksud kamu." Dan aku berbalik pada Raisa,"Beb, ini semua nggak bener kan?", tanyaku.

"Rendy, waktu kita 5 tahun dan kamu belum juga memutuskan kapan waktu yang tepat. Rio datang lebih cepat, Rend. Kita baru beberapa minggu ini kenal, dia juga klien aku untuk konsultasi bisnis otomotifnya. Dan dia menurutku lebih tepat berjalan beriringan denganku".

"Astaga...", aku mulai bingung dan minta penjelasan dari Rio.
"Rio, kau tahu soal Raisa dariku kan. Kau juga tahu betapa aku...", aku tak bisa melanjutkannya lagi. Kalimat itu begitu menyesakkan dadaku.

"Rendy, hidup ini seperti area pertandingan balap. Jika kau niat dan mau, kau akan berusaha menjadi nomor 1 dan menang. Aku jelas sudah memenangkan race ini. Kau tak perlu lagi ngos-ngosan mengimbangi Raisa karena posisimu sudah ku gantikan".

Sejak itu, aku pun sadar. Tidak semua yang kita inginkan di dunia ini bisa terwujud begitu saja. Aku sudah berusaha, aku anggap ini campur tangan Tuhan untuk menyelamatkan hidupku. Aku sendiri pun belum tahu hikmahnya. Semua perlu kau kembalikan lagi pada Sang Pencipta, seperti apa skenario dari-Nya. Di awal jelas aku sudah bersikeras agar Raisa tetap bersamaku. Tapi ternyata takdir berkata lain.

Rio memang seorang teman yang menikungku, seperti kegemarannya dia saat di area balap menyalip di tikungan. Namun aku tak ingin hubungan pertemanan ini rusak karena urusan cinta. Perlahan aku mulai move on. Sulit rasanya melupakannya begitu saja. Sambil mendengarkan lagu Rick Price yang berjudul Heaven Knows yang cukup mewakili hatiku saat ini.

Maybe my love will comeback someday, but only heaven knows.
Maybe our hearts will find their way, but only heaven knows.
All I can do is hope and pray 'cos heaven knows.

"Sob, anggep aja kemarin aku yang jagain calon istri kamu ya. Biar dia nggak salah pilih pacar. Semoga dia slalu bahagia sama lo", aku sudah bisa mengatakan ini pada Rio disuatu pertemuan kami.

"Sorry Rend, gue ambil posisi lo. Karena gue tahu lo nggak akan kuat menghadapi ambisi Raisa", kata Rio sambil menepuk pundakku dan tersenyum.

Seburuk apapun keadaan yang pernah kau alami. Tak akan pernah bisa jadi akhir cerita bahagia jika kita masih memiliki hati yang keras untuk tidak menerimanya. Justru keikhlasan hatilah yang kelak membawa kebahagiaan yang tak tergantikan.









Posting Komentar untuk "Sebuah Cerpen Bagaimana Teman Bisa Menikung"