Cicil Rumah Tanpa Riba

 


Semua masyarakat muslim tentunya pasti setuju bahwa dalam bermuamalah harus sesuai dengan syariat Islam agar hidup jadi berkah, pun terkait bagaimana bisa cicil rumah tanpa riba.

Dalam hal jual beli rumah harus dengan skema pembayaran yang sesuai dengan syariat Islam. Namun masyarakat telah lama terbiasa dengan kehadiran system pembayaran bank yang menetapkan suku bunga.

Suku bunga yang ditetapkan oleh bank-bank ini dianggap wajar dan sah-sah saja. Padahal jelas sekali di dalamnya mengandung unsur riba yang sangat tidak dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Jadi mulai saat ini para ulama dan masyarakat Islam Indonesia seharusnya bisa lebih berani dan gencar dalam menjelaskan prinsip-prinsip bermuamalah yang sesuai syariat Islam. Meski kita hidup di jaman dimana riba tersebar luas, seperti yang pernah dikatakan Nabi Muhammad SAW.

Diharapkan kehadiran system Syariah yang murni benar-benar Syariah ini nantinya bisa menjawab keresahan masyarakat terhadap kejamnya system pembayaran bank konvensional. Sehingga masyarakat, terutama umat Muslim, bisa menikmati rumah tanpa riba.

Ada 7 prinsip yang digunakan oleh para penggerak di dunia property Syariah dalam jual beli, baik itu pembayaran cash maupun cicil rumah tanpa riba.

 

7 Prinsip Cicil Rumah Tanpa Riba

Sebenarnya ada prinsip lainnya selain “tanpa riba”, yaitu tanpa denda, tanpa sita, tanpa asuransi, tanpa KPR Bank, tanpa penalty, dan tanpa akad bermasalah. Ketujuh prinsip tersebut juga lah yang diusung oleh Developer Property Syariah (DPS) yang beberapa tahun belakangan ini telah mulai banyak project property Syariah di seluruh wilayah Indonesia.

Tanpa Riba

Tidak seperti yang telah digunakan oleh bank-bank konvensional dalam menentukan laba perusahaan perbankan mereka, yaitu dengan suku bunga. Meski suku bunga itu berdasarkan acuan dari Bank Indonesia, tetapi di dalamnya terdapat unsur ketidakpastian atas kelebihan pembayaran yang harus dibayarkan oleh nasabah.

Jadi jika bank konvensional menerapkan suku bunga sebagai pedoman pembayaran, maka dalam pembayarannya nasabah atau pembeli juga harus membayarkan angsuran pokok dan bunga yang telah disepakati. Malangnya tingkat suku bunga biasanya naik turun sehingga bisa saja 1 – 2 tahun mendatang pembayaran sudah tidak sama lagi.

Namun ada juga bank konvensional yang menetapkan pembayaran tetap setiap bulannya hingga jangka waktu yang telah disepakati, tetapi Anda juga harus jeli dalam melihat proporsi jumlah pembayaran setiap bulannya. Karena bank memiliki system pembayaran anuitas atau tetap. Keduanya tetap memasukkan suku bunga di dalamnya. Tentang besaran proporsi pembayaran cicilan tersebut akan lebih terasa jika Anda akan melakukan pembayaran atau pelunasan dipercepat, maka jumlah pokok pinjaman yang harus Anda bayarkan biasanya masih relative besar karena di tahun-tahun awal bank lebih banyak mengambil porsi pembayaran bunga terlebih dahulu.

Sistem pembayaran yang sesuai syariat Islam dimana harga pokok objek yang akan dibeli / pinjaman sudah ditentukan diawal perjanjian, jadi laba sudah ditentukan diawal dan pembeli bisa melakukan pembayaran setiap bulannya dengan jumlah yang tetap hingga jangka waktu yang disepakati.

Dengan perhitungan tanpa bunga ini masyarakat bisa hidup lebih berkah meski cicil rumah tanpa riba menjadi pilihan.

 

Tanpa Denda

Masih dengan pembandingan bagaimana system bank konvensional menerapkan system pembayaran perbankan adalah ketika pembeli rumah atau nasabah terlambat melewati batas waktu yang telah disepakati nantinya akan dikenakan tambahan biaya denda pada pembayaran selanjutnya.

Inilah mengapa para pegawai bank yang memiliki tanggung jawab dalam maintenance nasabahnya harus mengingatkan untuk pembayaran agar tidak terlambat bulan. Denda yang dikenakan jika terjadi keterlambatan ini biasanya dihitung dari bunga berjalan harian berapa hari keterlambatan dalam melakukan pembayaran.

Tentu hal ini semakin membuat masyarakat terbebani karena pembayaran yang terkesan meneror kehidupan mereka. Jangan sampai terlambat bayar jika tidak mau dikenakan denda. Padahal kondisi ekonomi masyarakat tidak lah tetap.

Berbeda rumah tanpa riba dengan system Syariah Islam yang tidak menerapkan denda jika terjadi keterlambatan pembayaran. Pembayaran di bulan selanjutnya adalah kekurangan pembayaran bulan sebelumnya dan pembayaran bulan ini.

 

Tanpa Sita

Bank konvensional menerapkan hak sita yang dimiliki oleh bank jika terjadi one prestasi atau keterlambatan pembayaran dan sudah masuk kategori macet. Oleh karena itu, system bank-bank konvensional sangat aware dengan apa dan berapa nilai jaminan yang diserahkan oleh pembeli/nasabah.

Semakin baik nilai jaminan yang diserahkan, maka semakin dipilih bank untuk dijadikan jaminan. Karena jaminan yang bankable lebih cepat terjual jika suatu saat harus dilakukan lelang karena kredit yang macet.

Tidak akan terjadi bila Anda memilih menggunakan system Syariah Islam, dimana tidak ada jaminan yang diserahkan. Karena akad muamalah yang jelas tanpa menggunakan barang sebagai jaminan. Jadi jika terjadi kegagalan dalam pembayaran, maka bisa didiskusikan dengan developer atau bank Syariah yang ditunjuk untuk penjualan objeknya. Tentunya hal ini juga lebih menghormati pembeli daripada melakukan sita yang biasanya tanpa kerelaan pembeli, karena yang menentukan nilai jual saat lelang adalah bank.

 

Tanpa Asuransi

Tanpa asuransi ini mungkin bisa dibilang kekurangan karena apabila sesuatu hal terjadi terhadap objek barang/ rumah yang dibeli, maka tidak asuransi yang bisa menanggungnya. Misalnya terjadi kebakaran dan pencurian.

Namun bukan berarti asuransi ini juga digratiskan oleh bank konvensional, karena saat perjanjian kredit dilakukan pembeli atau nasabah juga diwajibkan untuk membayar sejumlah nilai pertanggungan asuransi. Bank tidak mau jika sesuatu terjadi dan tidak ada yang menanggungnya sehingga premi asuransi yang dibayarkan diawal menjadi jaminan untuk bank.

Lalu jika sampai kredit lunas tidak terjadi apa-apa apakah uang pembeli atau nasabah kembali? Jawabannya adalah tidak. Karena pembayaran kepada perusahaan asuransi berupa premi tersebut sifatnya hangus jika tidak terpakai, bukan berupa tabungan.

Di dalam system rumah tanpa riba tidak ada penjamin dan pelindung yang Maha Besar selain Allah SWT. Maka semua kita serahkan pada Allah SWT karena Dia-lah sebaik-baik pelindung kita. Dalam bermuamalah kita tidak dianjurkan untuk melakukan transaksi seperti yang dilakukan oleh pihak asuransi karena sifatnya seperti perjudian.

 

Tanpa KPR Bank

Dari beberapa penjelasan mengenai “tanpa” di atas adalah beberapa system yang pasti dilakukan oleh bank konvensional, dimana sangat jauh sekali dengan prinsip muamalah yang sesuai syariat Islam.

Selain itu, dalam menggunakan KPR Bank kita juga dituntut memiliki track record yang baik dalam dunia perbankan. Semua transaksi pinjaman kita tercatat oleh Bank Indonesia dan bank konvensional akan melakukan pengecekan terhadap latar belakang pembayaran pinjaman yang pernah kita miliki atau yang disebut BI checking.

Sistem Syariah tidak memiliki syarat seperti ketika mengajukan pinjaman di bank. Sistem dalam bermuamalah yang benar adalah berdasarkan kepercayaan.

 

Tanpa Pinalty

Pinalty biasanya dikenakan bagi pembeli atau nasabah yang melakukan pembayaran atau pelunasan dipercepat, maksudnya lebih cepat daripada jadwal yang disepakati sebelumnya. Dan jumlah penalty ini biasanya cukup tinggi, sekitar 3% - 6% dari sisa pokok hutang yang masih harus dibayarkan.

Pinalty ini diterapkan oleh bank konvensional agar orang-orang enggan untuk melakukan pelunasan lebih cepat. Karena jika terlalu cepat lunas maka bank tidak akan menerima pendapatan berupa bunga tersebut yang setiap bulannya dibayarkan.

Berbeda dengan system Syariah Islam yang jika bisa membayar atau melunasi lebih cepat maka hal itu lebih baik. Karena bagi developer Syariah sendiri yang menerima pembayaran akan lebih cepat memiliki modal untuk melakukan pembangunan unit rumah. Malahan biasanya ketika melakukan pelunasan dipercepat akan diberi bonus dari developer.

 

Tanpa Akad Bermasalah

Dalam system perbankan akan selalu menganut akad yang tidak jelas, misalnya seseorang mengajukan pinjaman ke bank A untuk membeli rumah. Maka dalam pikiran kita adalah bank yang akan membayar dulu kepada pihak pemasaran/developer. Namun yang terjadi adalah bank hanyalah sebagai sebuah perantara pembayaran. Barang atau rumah yang ingin kita beli masih menjadi milik developer karena bank belum membayar penuh atas harga rumah tersebut.

Akad tersebut menjadi tidak jelas karena objek yang belum sepenuhnya menjadi milik bank tapi kita hanya berakad dengan bank.

Jadi masih kah mau memilih beli rumah lewat KPR bank konvensional yang lebih banyak ruginya untuk kita? Jika belum dimampukan membeli secara tunai lebih baik mulai cicil rumah tanpa riba saja dengan developer Syariah yang amanah dan berkah.

Cicil Rumah Tanpa Riba Bikin Berkah

Posting Komentar untuk "Cicil Rumah Tanpa Riba"