Kisah Tentang Yang Teristimewa

Yang Teristimewa


Perayaan hari lahirku dan Arbi tak pernah terasa istimewa seperti pasangan-pasangan lain. Hanya ucapan "Selamat Ulang Tahun" yang biasa kami saling berikan. Karena kami memang tak pernah merencanakan untuk dirayakan.

Namun tahun ini ada yang beda. Hari ulang tahun Arbi yang sebentar lagi akan datang terasa lebih menyesakkan. Karena aku tahu mulai tahun ini kami tak kan bisa membagi rasa suka dan duka kepada orang tua. Ayah Arbi memang sudah lama tiada, begitu pun ibuku yang sudah dulu berpulang 5 tahun yang lalu. Ada yang berbeda kali ini. Karena orang tua yang tersisa tak pernah bisa kami jadikan yang teristimewa lagi. Ibu Arbi dan ayahku meninggal di tahun yang sama.

Seperti hari ulang tahun yang tak pernah ku rencanakan. Kepergian mereka juga tak pernah aku tahu rencananya. Itu pasti, tapi aku tak pernah menyiapkan sebelumnya.

Di balik senyum biasa yang selalu aku sematkan ini, tak banyak yang tahu bahwa aku memendam rasa. Rasa yang teristimewa untuk mereka dan untuk suamiku, Arbi.

"Hun, sebentar lagi hari ulang tahunmu. Kamu ingin hadiah apa?", tanyaku pada Arbi. Aku sengaja menanyakannya karena aku ingin dia sesekali menginginkan sesuatu dariku.

"Apa ya?", gumamnya. "Kayaknya nggak ada deh", lanjut Arbi.

Sudah ku tebak, dia seperti datar-datar saja menjalani hidup ini. Aku pun menyerah bertanya padanya.

Saat ini kami tinggal di sebuah kost yang menurutku cukup nyaman. Karena kami tak lagi tinggal di rumah cicilan. Aku dan Arbi sepakat untuk menjualnya karena pendapatan kami berkurang setelah aku memutuskan keluar dari pekerjaanku.
Arbi tak pernah sekalipun menuntutku untuk selalu melayani semua kebutuhannya. Tapi dengan pekerjaanku kemarin aku merasa kesulitan membagi waktuku dengan Arbi. Bahkan kami jadi tak punya waktu untuk berkunjung ke rumah orang tua kami ketika mereka masih hidup. Kami hanya sesekali datang di Hari Minggu, itu saja kalau kami tidak capek karena pekerjaan seminggu ini yang memaksaku untuk terus pulang lembur.

***

"Sindu, kamu nggak apa-apa resign dari pekerjaanmu tapi mbak mohon pilihan kamu dan Arbi tak lantas jadi beban keluarga besar ya!", kata kakak Arbi saat kami bertemu di rumah ibunya Arbi.

"Ibu khawatir saat orang-orang bank nyari Arbi dan kamu, katanya kamu belum bayar angsuran rumah 3 bulan ini", kata ibu waktu itu.

"Tenang aja, Bu. Aku dan Sindu sudah memutuskan untuk jual rumah aja karena aku dapat kerjaan di luar kota", sanggah Arbi yang mencoba menenangkan ibunya.

"Beneran kamu udah dapat kerjaan lagi, nak?", tanya ibu pada Arbi.

"Iya Bu, mungkin Arbi dan Sindu mau kost aja nanti di sana biar nggak bolak balik", jelas Arbi.

Aku dan Arbi memang sudah memutuskan untuk mencari pekerjaan saja di luar kota dan aku ikut dengan Arbi. Tahun ini adalah tahun pernikahan kami yang ketiga dan kami masih menanti momongan yang Tuhan anugerahkan untuk kami.

***

Mengingat kata-kata kakak Arbi waktu itu artinya aku dan Arbi harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa hidup mandiri. Uang pesangon dan hasil jual rumah yang tidak seberapa karena kami jual cepat menjadi modal kami untuk memulai hidup dari titik minus.

6 bulan telah berlalu sejak ibu Arbi meninggal dan 3 bulan yang lalu pun ayahku menyusul. Tahun yang berat untuk kami jalani. Dan semakin terasa berat bagiku menjelang hari ulang tahun Arbi. Seperti aku ingin terus memeluknya dan mengatakan bahwa kita bisa melewati semua ini sampai waktunya tiba nanti.

Sejak tak bekerja otomatis aku tidak memiliki uang sendiri. Aku hanya mengandalkan pemberian Arbi dari penghasilan pekerjaan barunya. Aku hanya memiliki uang Rp. 50.000,00 di dompet. Dan tak mungkin aku minta Arbi uang untuk beli kue ulang tahunnya. Karena kami harus berhemat.

Di tengah keterbatasan hidup kami masih banyak juga keluarga yang suka membicarakan keputusanku untuk berhenti bekerja kantoran. Posisi pekerjaanku yang mereka pandang istimewa sangat disayangkan untuk ditinggalkan. Penghasilanku juga melebihi penghasilan Arbi waktu itu sehingga Arbi sering jadi pembicaraan di tengah keluargaku. Mereka seperti menganggap Arbi benalu yang beruntung hidup denganku.

Alasan itu juga yang membuat keluargaku dan keluarga Arbi tidak begitu akrab. Dan ini semakin menyulitkanku sebagai anak menantu ibunya Arbi.

Karena aku ingin Arbi lebih bisa dihargai dan dihormati sebagai seorang kepala rumah tangga, aku pun melihat Arbi dengan tubuh kurusnya yang selalu berusaha mengantarku pagi-pagi buta ke kantor dan menungguku di parkiran kantor hingga malam karena jam pulangku yang molornya suka nggak konsisten. Jadi aku memutuskan untuk lebih fokus mendampinginya mewujudkan impian apa yang sebenarnya dia inginkan.

Jika dulu perhatianku terbagi pada pekerjaanku yang tak kenal waktu. Kini aku ingin lebih banyak meluangkan waktu bersama Arbi. Aku merasa senasib dengannya karena kami tak bisa melihat orang tua kami lagi. Aku merasa senasib dengannya karena kerinduan kami akan belaian orang tua kami. Aku merasa senasib dengannya karena tak ada lagi tempat mengadu atau setidaknya tempat kami berbagi kebahagiaan kami. Jika kami kelak memiliki anak-anak, mereka tak akan bisa mengenal siapa kakek dan nenek mereka.

Besok adalah hari ulang tahun Arbi. Aku tak ingin dia melewatinya seperti tahun-tahun yang lalu yang terlalu biasa. Aku akhirnya memilih untuk tetap memberinya kue meski itu aku hanya bisa membeli roti sobek yang pinggirnya ku hiasi dengan snack kentang Chitato. Aku juga ingat masih punya simpanan lilin ulang tahun bekas yang bisa ku gunakan untuk merayakannya.

Sore ini hujan dan aku tidak ingin membatalkan rencana istimewa ini untuk Arbi. Dan aku pun segera berangkat ke swalayan terdekat.

Malam pun tiba dan tepat jam 12 malam aku terbangun dan mulai menata pelan-pelan roti sobek, chitato, dan lilin di atas sebuah piring. Aku pikir ini perayaan ulang tahun yang menyedihkan. Tapi segera aku hapus pikiran itu. Tidak. Hari ini adalah hari yang teristimewa untuk orang yang juga istimewa.

"Selamat ulang tahun, Hun", ucapku sambil membangunkan Arbi.

Arbi terbangun dan tersenyum melihat roti sobek dan chitato di atas piring. Dia segera meniup lilinnya.

"Eits...berdoa dulu donk, baru tiup lilinnya", kataku padanya. Aku ikut senang melihatnya tersenyum. Dan setelah Arbi meniup lilin dia langsung ambil chitatonya.

Roti sobek dan chitato ini adalah makanan favorit Arbi. Jadi aku pikir tak akan terbuang sia-sia daripada membeli kue ulang tahun yang uangku pun tak cukup untuk membelinya.

Dear Arbi, 
Meski aku tak bisa menggantikan sosok orang tuamu, tapi aku akan selalu berada di sini.
Meski aku tak bisa mengerti apa seluruh keinginanmu, tapi ijinkan aku untuk bisa selalu memberi.
Meski aku tak bisa sesempurna istri yang lain, tapi satu hal dariku untukmu bahwa aku akan terus memelukmu dalam suka dan duka ini.
Kamu adalah yang teristimewa untukku, jangan dengarkan yang lain.

Yang teristimewa


Posting Komentar untuk "Kisah Tentang Yang Teristimewa"