Seberkas Sinar Sunny

Sebuah Cerpen yang ingin menunjukkan sisi kemanusiaan betapa usaha seseorang untuk bisa berguna bagi sesama tak pernah memandang rupa dan harta, bahkan apakah dia disable atau tidak. Semoga kita bisa memetik pelajaran darinya.

Cerpen ini merupakan kontribusi saya dalam Projek Kebaikan yang diselenggarakan oleh Penerbit Perfect, yang dinamakan Perfecto Peduli terhadap bencana COVID-19 melalui penerbitan sebuah karya Buku Antologi "Dari Kata Untuk Kita". Hasil penjualan buku Antologi Cerpen ini 80% disumbangkan untuk bencana Covid-19.

Seberkas Sinar Sunny - Sebuah Cerpen




Semua cita-citanya kandas seperti disapu oleh hujan semalam. Ketika ayahnya berkehendak untuk menikahkan dia dengan lelaki asing yang bahkan belum pernah dia kenal sebelumnya.

Moza, dia lah gadis yang terpaksa menikah di usia dini. Usianya saat itu masih 18 tahun, usia dimana dia seharusnya mulai mengenal dunia dan mengejar cita-citanya. Namun harus berhenti di tangan seorang pria yang kini jadi suaminya.

Masih terngiang dalam ingatan Moza bagaimana ayahnya menginginkannya untuk segera menikah. "Moza, usiamu kini sudah cukup dewasa. Maka saatnya kini kamu bisa membalas kebaikan orang tua yang telah membesarkanmu. Menikah lah dengan pria yang telah kami pilihkan untukmu, maka masa depanmu akan terhormat."

Moza mencoba mengingat masa-masa saat dia akhirnya harus mau menuruti keinginan orang tuanya. Dan kini dia mendapati dirinya berada di atas kursi roda. Apakah ini yang orang tuanya inginkan untuk hidupnya?

Sudah hampir 2 tahun dia harus menjadi tawanan di atas tempat tidurnya, tak ada yang bisa dia lakukan. Kata dokter tubuhnya akan infeksi jika terlalu banyak bergerak akibat banyaknya titanium yang dipasang di badannya. Ya, kecelakaan itu telah membuat cidera tulang belakang yang cukup parah.

Moza hanya berkawan dengan kursi rodanya untuk bisa melihat dunia luar. Dia belum bisa berada di tengah orang-orang yang bisa kapan saja menanyakan bagaimana keadaannya, bagaimana jika dia dianggap tidak bisa karena kini dia adalah bagian dari kaum disable.

Suaminya pun hanya sesekali menengoknya di kamar. Dia tak sekalipun mau menyentuh Moza, malahan menyuruh pembantunya untuk menyiapkan segala kebutuhan Moza.

"Moza, sudah saatnya aku harus berbicara padamu tentang pernikahan kita. Aku seorang pejabat pemerintah dan aku membutuhkan istri yang normal untuk bisa mendampingi tugas-tugas negara. Aku tak bisa hanya melihatmu seperti ini." Fadil, suami Moza, akhirnya mengatakan keinginannya pada Moza untuk bercerai.

"Aku tak perlu lagi bertanya apa maksudnya, karena aku akan nampak semakin bodoh dan tak berguna di hadapanmu, Mas. Jika memang perceraian yang kau inginkan aku akan mengikuti kemauanmu." Dengan dada yang sesak dan kalimat terbata-bata menahan air mata, Moza berusaha untuk mengatakannya. Meski dia tidak menginginkan perceraian itu sama sekali.

Dia tak bisa membayangkan hidupnya jika perceraian itu benar terjadi. Bagaimana pendapat orang tentang dirinya yang jadi janda? Bagaimana dia harus hidup sebagai seorang wanita yang tak bisa memiliki anak akibat cidera tulang belakangnya? Ketakutan-ketakutan itu terus muncul dalam benaknya.

Moza ingin mengungkapkan segala perasaannya, tapi tak tahu pada siapa. Hanya kursi roda yang setia berada di samping ranjang tidurnya.

Pilihannya jatuh pada sebuah kanvas yang tergeletak di samping lemari pakaiannya. Kanvas kecil yang masih putih polos menunggu warna yang ditorehkan di atasnya. Lalu perlahan Moza mulai melukis. Kali ini dia tak ingin melakukan sesuatu yang orang lain inginkan, tapi dia hanya ingin melukis untuk dirinya sendiri.

Banyak yang memuji lukisan Moza setiap kali ada yang berkunjung ke kamarnya, "wah, bagus sekali lukisanmu, banyak warna dan indah dilihat."

Padahal lukisan itu menggambarkan kesedihannya. Namun tak jadi soal apa pendapat orang. Dia tetap saja melukis untuk meluapkan isi hatinya. Hingga waktu perceraian itu pun tiba.

Moza kini bisa lebih banyak tersenyum setiap kali dia bertemu dengan orang-orang. Perceraian ini pun adalah salah satu hal yang harus dia lewati, bukan lagi menjadi ketakutan yang hanya ada dalam bayangannya saja.

Setelah bercerai Moza tetap melanjutkan lukisan-lukisannya. Dia pun mencoba mulai aktif untuk muncul di publik, dia bahkan mendaftarkan diri di LSM yang bergerak di bidang kemanusiaan, seperti apa yang menjadi cita-citanya dulu.

"Apakah kamu sakit, Moza?", suatu kali ada seseorang yang menanyakan itu padanya. Sebenarnya ini pertanyaan yang membosankan baginya, apakah karena dengan kursi roda maka orang terlihat sedang sakit? Jika begitu dia akan sakit selama sisa hidupnya, pikir Moza.

"Emm, selain cidera tulang belakang ini aku merasa baik-baik saja.", Moza mencoba menjawabnya sambil menyunggingkan senyum lebarnya.

Waktu itu ada seorang pria yang malah memujinya, "kamu tetap cantik dan mempesona meski kamu berada di atas kursi roda. Apalagi melihatmu tersenyum manis seperti itu, kamu bisa mengubah dunia dengan senyumanmu."

Berkat pujian-pujian itu Moza pun semakin percaya diri untuk mengikuti kegiatan di LSM. Dia menjadi satu-satunya aktivis perempuan berkursi roda yang gemar menyuarakan hak-hak kaum wanita dan perlindungan anak.

Suatu ketika dia melihat kampanye pemberian vaksin polio untuk anak-anak. Dan dia melihat mereka menggunakan model seorang gadis kecil berkursi roda.

"Teteskan cairan polio ini untuk anak-anak Anda secara rutin agar mereka tidak akan menjadi seperti gadis ini.", salah seorang petugas kesehatan yang berkampanye mengatakan itu pada para orang tua.

Moza melihat bagaimana gadis kecil itu seperti dirinya, berada di atas kursi roda, tak ada yang bisa dia lakukan selain menunduk dan menahan kesedihan. Moza pun berpikir, pernah kah orang-orang itu memikirkan bagaimana perasaan gadis kecil itu? Mereka terlalu asal menggunakan model kampanye untuk menarik perhatian orang tanpa perduli perasaan orang lain. Mungkin gadis itu terpaksa menurutinya atau dipaksa oleh orang tuanya untuk mendapatkan uang. Moza penasaran dan ingin bertanya pada gadis itu.

"Hai, namaku Moza. Kita sama ya!", Moza mencoba mengenalkan diri sambil memberikan senyuman khasnya.

"Iya, Kak. Namaku Sunny.", jawab gadis itu sambil mengulurkan tangannya pada Moza untuk berkenalan.

"Sunny, apa yang kamu lakukan di sini?", tanya Moza.

Sunny pun tidak segera menjawab. Dia mengalihkan pandangannya pada kedua kakinya yang tak berdaya. Air mata perlahan menetes akibat tertahan sekian lama saat harus terlihat baik-baik saja menjadi model kampanye polio.

"Aku hanya ingin orang lain tidak menjadi sepertiku. Aku tak bisa berjalan sejak kecil karena kondisi orang tuaku yang tak mampu membawaku ke dokter saat aku sakit demam." Sunny akhirnya mulai bercerita kepada Moza.

"Meski begitu, mereka tidak harus menjadikanmu contoh seperti ini kan?", tanya Moza. Dalam hati Moza dia bersyukur sempat merasakan bagaimana kedua kakinya dulu bisa berdiri berjalan tanpa bantuan alat. Ternyata kondisi Sunny lebih menyedihkan daripada kisahnya sendiri yang dia pikir itu adalah kisah paling menyedihkan di dunia.

Sunny pun menjawab,"Iya Kak. Tapi tak banyak yang bisa ku lakukan untuk membantu orang tuaku. Dengan bayaran model kampanye ini aku bisa sedikit memberikan uang pada ibuku dengan jerih payahku sendiri."

Bayaran yang tak seberapa ini ternyata menjadi alasan Sunny untuk bersedia menjadi contoh anak-anak yang terserang penyakit polio. Seketika dada Moza seperti sesak dan hatinya sakit mendengar cerita Sunny. Sunny mampu menjadi contoh bagi orang lain untuk bisa memberi apapun itu bentuknya di tengah keterbatasannya.
Sunny melanjutkan ceritanya, "dulu ada ayah yang bekerja untuk biaya hidup kami. Tapi setelah ayah meninggal, ibu lah yang harus menjadi tulang punggung keluarga kami dan berusaha agar kedua adikku bisa terus sekolah."

Moza kembali tercengang, bagaimana dengan hidupnya selama ini? Apa yang sudah dia berikan untuk orang-orang terdekatnya? Alih-alih memikirkannya, Moza lebih perduli dengan meratapi nasibnya yang harus berhenti di atas kursi roda.

Tak sempat berkata-kata lagi, gadis kecil itu segera berpamitan pada Moza karena kampanye polio segera berakhir. Sunny berusaha mengayuh kursi rodanya perlahan dengan kedua tangannya yang sehat. Kedua kakinya terkulai lemas dan terlihat lebih kecil daripada ukuran kaki gadis usia remaja lainnya.

Moza bertanya pada Sunny sebelum dia pergi, "akan kemana dirimu setelah ini? Apakah kamu akan pulang?"

Sunny tersenyum tipis sambil berkata, "tidak, Kak. Aku harus menuju tempat selanjutnya untuk memberikan setengah bayaran yang ku terima ini untuk teman-temanku."

Moza mengerutkan dahinya dan mencoba bertanya lagi pada Sunny, "boleh kah aku ikut?". Sunny pun segera mengangguk.

Terlihat dua orang perempuan berjalan dengan kursi roda menyusuri sebuah jalan kecil menuju suatu rumah singgah. Sebelum sampai di tempat tujuan, Sunny mampir dulu ke sebuah warung makan dan membeli 8 bungkus nasi untuk dibawanya.

Moza sibuk dengan pikirannya sendiri, mau dibawa kemana makanan itu? Lalu apa dia melakukan ini setiap hari?  Bagaimana bisa dia bersusah payah berjalan dengan kursi roda menuju satu tempat ke tempat lainnya setiap hari seperti ini ? Tanpa ada kawan yang menemani atau setidaknya membantu mendorong kursi rodanya.

Sunny tiba-tiba berhenti dan mengatakan pada Moza yang berada di belakangnya,  "kita sudah sampai. Mari masuk, Kak."

Setelah Sunny mengucap salam dan mengetuk pintu, pintu terbuka perlahan dan terlihat wajah-wajah mungil yang sepertinya sudah menanti kedatangan Sunny sejak lama.

"Hai, adik-adikku. Kali ini kakak bawa teman lho, cantik kan?" Sunny menyapa beberapa anak yang bersorak gembira dengan kedatangannya. "Namanya Kak Moza. Sini-sini salim dulu sama kakak cantik kita."

Moza tersenyum lebar menyambut uluran tangan anak-anak kecil itu yang berebutan meraih tangannya. Moza tertawa kecil melihat tingkah anak-anak itu. Sunny pun ikut tersenyum melihat keriangan anak-anak menyambut Moza.

"Oh iya nih, Kakak bawa makanan untuk kalian." Sunny memberikan nasi bungkus yang dibawanya untuk dibagikan satu per satu kepada mereka. Tersisa 3 bungkus nasi yang dia simpan di gagang kursi rodanya.

Moza pun tersenyum melihat Sunny. Dia tak habis pikir bagaimana Sunny bisa melakukan semua ini. Ada sisa 3 bungkus nasi lagi, pasti itu untuk ibu dan adik-adiknya di rumah, pikirnya.

Sambil melihat anak-anak menikmati makan siangnya. Sunny bercerita pada Moza tentang rumah singgah tersebut.
"Ini adalah tempat dimana impianku tertanam. Aku bertemu mereka semua di jalanan dan beruntung ada seseorang yang merelakan sebuah tempat untuk jadi rumah mereka. Mereka masih terlalu kecil untuk mencari uang di jalanan. Aku hanya tidak ingin nasib mereka sama sepertiku, yang tak bisa menikmati bangku sekolah dan merasakan bagaimana berjalan di atas kaki sendiri."

Moza bertanya pada Sunny, "setiap hari kamu pergi ke tempat ini dan membawakan mereka makanan?"

"Iya, Kak. Tapi untuk makanan hanya saat aku menerima bayaran dari pekerjaanku saja. Yach meski harus jadi contoh seperti tadi. Hanya itu yang bisa ku lakukan." Ungkap Sunny sambil meneteskan air mata tapi kemudian menyekanya dan melanjutkan, "aku tidak boleh sedih karena banyak yang bisa dilakukan di sini. Aku bisa mengajar mereka baca tulis dan mengaji setiap hari."

Moza menyimak cerita Sunny tapi kemudian bertanya, "dulu kamu sempat sekolah juga ya?"

Sunny menjawabnya dengan gelengan kepala dan senyum mungil di wajahnya sambil berkata, "aku tak bisa sekolah, Kak. Aku belajar baca tulis dan mengaji dari ayahku. Ayahku dulu berkata meski tidak sekolah tapi aku harus bisa membaca dan menulis serta mengaji karena itulah bekal kehidupan yang bisa ayah berikan untuk kebutuhan dunia dan akhiratku kelak."

Perasaan Moza bercampur-campur saat itu. Di satu sisi dia melihat kehidupan Sunny yang lebih menderita dari dirinya, tapi di sisi lain dia juga belajar bagaimana Sunny menjalani hidupnya dengan penuh rasa syukur. Bahkan Sunny lebih dini memiliki pemikiran untuk berbagi dengan anak-anak lain.

Kini dia melihat sisi lain dari kehidupannya. Kebahagiaan sejati itu bukan lah dari seberapa banyak harta dan ketenaran yang dimiliki, melainkan seberapa banyak yang bisa kamu bagi dengan orang-orang yang lebih membutuhkan.

Dia pun belajar untuk tidak memiliki perasaan terlalu menderita dan berpikir menjadi orang paling menyedihkan di dunia. Karena banyak orang lain yang kehidupannya tak seberuntung kita dan masih banyak cerita hidup orang lain yang lebih menderita. Namun lihat lah, orang-orang yang dia pikir lebih menyedihkan itu mampu bahagia dan tetap tersenyum menyambut apa yang Tuhan berikan setiap harinya. Itulah rasa syukur yang sesungguhnya.

Moza pun bertekad untuk lebih aktif melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak yang kurang diperhatikan. Meski dia harus tertatih berjalan di atas kursi rodanya dan selamanya berkawan dengan kursi roda itu. Nyatanya dia mampu tersenyum bahagia melihat anak-anak itu saat menyambut kedatangannya.

Sunny, seperti arti namanya yang selalu menyinari, Sunny menjadi seberkas sinar bagi Moza. Lewat hasil lukisan-lukisannya yang dia jual secara online, Moza berhasil mengumpulkan dana untuk berbagi bersama Sunny memberikan kehidupan bagi rumah singgah itu. Rumah itu tak lagi tempat impian bagi Sunny, tapi juga Moza dan teman-teman kecil lainnya.


Posting Komentar untuk "Seberkas Sinar Sunny"