3 Cerita Islami Tentang Kejujuran

 


Cerita Islami tentang kejujuran sangat kita butuhkan untuk selalu memupuk rasa jujur di dalam diri. Karena apalah arti kemenangan tanpa kejujuran. Maka hasil yang kita dapatkan itu tak akan bertahan lama.

Berikut ini cerita Islami tentang kejujuran dari Nabi Syu’aib dan para sahabat nabi. Dengan berkaca pada hikmah cerita kaum terdahulu semoga kita bisa memetik nilai dari kejujuran tersebut.

 

Cerita Islami Tentang Kejujuran Abdullah bin Mas’ud

Sifat jujur merupakan salah satu sifat yang tidak dimiliki oleh setiap orang pasalnya banyak orang yang latar belakang pendidikannya bagus namun mereka tidak memiliki kepribadian jujur, akibatnya mereka sulit untuk mendapatkan ketenangan hidup.

Orang-orang jujur ini banyak sekali kita jumpai kisah-kisahnya pada zaman Nabi Muhammad, salah satunya yaitu kisah Abdullah bin Mas’ud yang menjadi penggembala kambing. Simak cerita islami tentang kejujuran sahabat nabi berikut ini :

Abdullah bin Mas’ud merupakan seorang yang mempunyai sifat jujur. Sebelum memeluk agama Islam Abdullah bin Mas’ud merupakan seorang penggembala kambing. Ia menggembala kambing milik seorang petinggi Quraisy Uqbah bin Abi Muaith. Dari pagi hingga sore ia habiskan waktunya untuk menggembala.

Pada suatu hari saat ia menjaga ternak, ada dua orang laki-laki paruh baya yang datang menghampirinya. Kedua laki-laki itu nampak haus dan begitu kelelahan. Mereka kemudian memberi salam kepada Abdullah bin Masud dan memintanya untuk memerahkan susu kambing tersebut.

Akan tetapi, Abdullah bin Mas’ud menolak memberikan susu itu karena bukan miliknya. "Kambing-kambing ini bukan milik saya. Saya hanya memeliharanya," katanya dengan jujur.

Mendengar jawaban itu, dua laki-laki tersebut tak memberikan bantahan. Walau pun sangat kehausan, mereka sangat senang dengan jawaban jujur si penggembala itu. Kegembiraan ini sangat jelas terlihat di wajah mereka.

Ternyata kedua orang itu adalah Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar Ash Shiddiq. Hari itu, keduanya pergi ke pegunungan Mekah untuk menghindari siksaan dan perlakuan kejam kaum Quraisy.

"Apakah kau mempunyai kambing betina yang belum dikawinkan?" tanya Rasulullah. "Ada." jawab Abdullah.

Lalu Abdullah mengajak Rasulullah dan sahabatnya melihat seekor kambing betina yang masih muda. Kemudian kaki kambing itu diikat. Rasulullah menyuapkan tangannya ke tubuh kambing tersebut sambil berdoa kepada Allah.

Saat itulah turun rizki dari Allah. Tiba-tiba saja susu kambing itu mengalir sangat banyak. Abu Bakar segera mengambil sebuah batu cekung yang digunakan untuk menampung air susu hasil perahan.

Mereka pun meminumnya bersama-sama. Setelah itu, Rasulullah berkata "kempislah". Seketika susu kambing menjadi kempis dan tidak mengeluarkan susu lagi.

Abdullah bin Mas’ud pun takjub dan terkejut menyaksikan hal tersebut. Sebab kambing tersebut sebelumnya belum pernah mengeluarkan air susu. Tapi di depan matanya saat itu kambing tersebut malah mengeluarkan air susu yang banyak dan bisa dinikmati bersama.

Itu adalah karunia Allah ujar Rasulullah. Kemudian muncul kekaguman Abdullah bin Mas’ud kepada tamunya. Tak lama usai peristiwa itu, Abdullah kemudian memeluk agama Islam dan menjadi salah satu penghafal Alquran terbaik.

 

Cerita Islami Tentang Kejujuran Yunus bin Ubaid

Kalau kita semua mengenal Utsman bin Affan sebagai saudagar kaya raya dan dermawan, dalam cerita islami tentang kejujuran ini, Yunus bin Ubaid dikenal sebagai saudagar yang ramah dan jujur kepada pembeli.

Yunus bin Ubaid adalah seorang pedagang emas yang berasal dari generasi tabi'in. Tabi'in adalah orang-orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para sahabat Nabi Muhammad SAW dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad SAW.

Sebagai seorang saudagar, Yunus bin Ubaid merupakan orang yang menjual barang sesuai dengan nilainya, tidak dilebihkan atau dikurangi. Kisahnya yang paling terkenal sebagai saudagar jujur adalah ketika ada seorang dari kalangan Badui yang mengunjungi toko perhiasannya dan membeli sebuah perhiasan.

Dalam suatu kisah, saat para saudagar yang lain belum membuka kiosnya, Yunus bin Ubaid telah membuka kios miliknya lebih dulu. Lalu seperti biasa setelah membuka kios, Yunus menitipkan semua jualannya kepada adik laki-lakinya untuk menunaikan salat dua rakaat.

"Kamu tunggu di sini. Saya akan segera kembali." kata Yunus kepada adiknya.

"Baiklah, saya juga sementara ini belum ke mana-mana." jawab adik Yunus.

Lalu, Yunus pun pergi untuk menunaikan salat yang telah menjadi kebiasaannya sebelum menjalani rutinisan akad jual-beli. Sementara adik Yunus membantunya untuk menjaga kios. Ketika kios itu ditinggal, ada seorang dari kalangan Badui datang dan hendak membeli sesuatu.

Setelah mlihat-lihat perhiasan yang dijajakan di kios Yunus, "Berapa harganya ini, Anak muda?, tanya orang tersebut sambil menunjuk perhiasan yang diinginkannya.

"Saya kasih harga 400 dirham." jawab adik Yunus.

Orang tersebut tampaknya sangat menyukai perhiasan yang dijual di kios Yunus. Sampai pada akhirnya, dia membeli barang yang ditanya kepada adik Yunus tanpa meminta untuk menurunkan harga atau tawar-menawar. Namun sayang, sifat kejujuran Yunus sepertinya tidak sepenuhnya menurun ke sang adik.

Adik Yunus berlaku curang dengan mengatakan barang yang dibeli dari orang kalangan Badui tersebut dijual dengan harga dua kali lipat, yakni 400 dirham. Padahal, harga yang sebenarnya ditetapkan oleh Yunus adalah sebesar 200 dirham.

Lantas, tanpa direncanakan, ketika orang Badui itu keluar dari kios Yunus, dia malah bertemu dengan sang pemilik kios yang asli tersebut di persimpangan.

Yunus tampak sudah mengetahui bahwa orang ini habis berkunjung dan membeli sesuatu dari kiosnya. Lalu, Yunus pun menyapa sekaligus orang Badui tersebut.

"Berapakah harga barang yang kamu beli ini?” tanya Yunus.

"400 dirham," jawab orang Badui tersebut.

Yunus kaget setelah mendengar jawaban itu, karena jelas barang yang dibelinya jauh dari harga asli.

"Tetapi, harga perhiasan ini sebenarnya hanya 200 dirham." kata Yunus.

Menyadari bahwa adiknya telah menaikkan harga dua kali lipat, Yunus pun mengajak orang Badui tersebut kembali ke kiosnya dengan maksud mengembalikan kelebihan uang dari perhiasan yang dibelinya,.

"Mari ke kios lagi, supaya saya dapat kembalikan kelebihan uang kepada Saudara." minta Yunus.

Orang Badui tersebut seakan merasakan niat baik dari Yunus. Tapi, dia menolak dengan halus dengan alasan harga yang diberikan cocok dari barang yang dibelinya.

"Di kampungku, harga barang ini paling murah 500 dirham." katanya.

Namun, Yunus yang dikenal jujur memohon untuk orang Badui ini menerima ajakannya kembali ke kios. Lantas, menyadari ketulusan Yunus, orang tersebut akhirnya memenuhi permintaan Yunus untuk kembali ke kiosnya. Di sana, Yunus mengembalikan kelebihan uang pembelian orang Badui tersebut.

Ketika orang itu pergi, Yunus pun memanggil adiknya, "Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah SWT atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan harga dua kali lipat?" tanya Yunus.

Merasa tak mau disalahkan, adiknya berpikir bahwa orang itu saja tidak mau menawar harga yang dibelinya. Andai saja orang itu mau menawarnya, ia akan menjual perhiasan itu dengan harga yang semestinya,

"Dia sendiri yang mau membeli dengan harga 400 dirham." jawab adiknya.

"Ya, tetapi di atas pundak kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri sendiri." ujar Yunus.

"Tiada sesuatu yang dimakan oleh seseorang yang lebih baik daripada makan dari hasil tangannya sendiri dan sesungguhnya Nabi Dawud as juga makan dari hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Bukhari)

Dari cerita islami tentang kejujuran Yunus ini kita dapat mempelajari bahwa sosok Yunus, selain menjadi saudagar yang jujur dan ramah, dia adalah pedagang yang mengerti bagaimana cara merealisasikan ibadah tatkala bekerja.

 

Cerita Islami Tentang Kejujuran Kisah Nabi Syuaib As

Nabi Syuaib As ialah seorang nabi yang diutus untuk berdakwah kepada kaum Madyan, atau sekarang masuk wilayah Yordania. Mereka terkenal dengan sifat curang dalam melakukan jual beli barang alias tidak jujur. Akibat menolak ajakan bertaubat, kaum Madyan akhirnya mendapatkan azab dari Allah SWT.

Dalam Al-Qur'an surah Hud ayat 84, Allah SWT berfirman: وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ Artinya: "Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)".

Satu kutipan ayat di atas dapat memberikan gambaran singkat terhadap kehidupan kaum Madyan. Mereka adalah sebuah kaum yang suka untuk tidak berbuat jujur dalam melakukan perdagangan. Meskipun sudah diperingatkan melalui utusan-Nya, penduduk Madyan tetap saja mengabaikan hingga azab datang.

Berkaitan dengan buruknya perilaku kaum Madyan kala itu, Allah SWT juga telah menyebutkannya dalam surah Al-‘Araf 85 dengan bunyi sebagai berikut: "Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".

Demikian dikisahkan bahwa kaum Madyan tersebut memang benar-benar melakukan kecurangan dalam berniaga sehingga Allah SWT mengutus salah satu di antara mereka untuk menjalankan dakwah. Dan dipilihlah Nabi Syuaib As sebagai pembawa risalah agar penduduk tersebut berbuat jujur dalam berdagang. Dalam menjalankan tugasnya, seperti dijelaskan melalui surah Hud ayat 84, sang nabi tidak serta merta langsung meminta agar kaum Madyan segera menghentikan perbuatan buruk tersebut. Akan tetapi, Nabi Syuaib As lebih dulu mengajarkan tentang arti tauhid kepada mereka. Dengan kata lain, Nabi Syuaib menekankan mereka untuk bertakwa kepada Allah SWT. Dengan keimanan yang didapatkan, kaum Madyan itu diharapkan segera mengakhiri perbuatan curang alias tidak lagi mengurangi takaran dalam berdagang. Meskipun demikian, sebagian besar justru menolak ajakan berbuat jujur. Hanya segelintir saja yang mau menerima dakwah beliau. Hingga seperti dituliskan lewat surah Hud ayat 89-90, Nabi Syuaib As memperingatkan kepada mereka perihal adanya azab dari Allah SWT yang bisa saja datang.

Hal yang sama disebutkan juga pernah menimpa kaum pada zaman Nabi Nuh As, Nabi Hud As, serta Nabi Saleh As saat mereka berani untuk mengingkari kebenaran dari Yang Maha Kuasa. Akhir kata, Allah kemudian meminta kepada Nabi Syuaib As beserta pengikutnya untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Datanglah azab berupa cuaca yang sangat panas, awan yang sangat hitam, dan ditimpakanlah kepada kaum Madyan berupa api yang membakar seluruhnya hingga binasa.

Dalam surah Hud ayat 94-95 disebutkan bahwa: "Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya". "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa".

 

Bagaimana menurut kamu cerita islami tentang kejujuran di atas? Kejujuran pada jaman dulu memang sangat diuji dalam bidang perdagangan karena merupakan mata pencaharian utama saat itu. Demikian juga ketika kita membaca cerita-cerita nyata tersebut, semoga kita bisa memaknainya sehingga bisa berlaku jujur dalam setiap langkah perjalanan hidup.

Source :

https://infakyatim.id/inspirasi/sifat-jujur-abdullah-bin-masud-
https://tirto.id/kisah-nabi-syuaib-as-keteladanannya-sikap-jujur-dalam-berdagang-gbxc

https://kumparan.com/hijab-lifestyle/kisah-yunus-bin-ubaid-sebagai-saudagar-paling-jujur-1taj3Wc1ouD/full

 

Posting Komentar untuk "3 Cerita Islami Tentang Kejujuran"