Widget Atas Posting

Pengertian Kampus Merdeka : Wajah Baru Pendidikan Indonesia

Konsep Merdeka Belajar yang bertumpu pada peningkatan Pendidikan di perguruan tinggi melahirkan kebijakan Kampus Merdeka dari Menteri Pendidikan Indonesia, Nadiem Makarim. Apa itu pengertian Kampus Merdeka ?

Kebebasan belajar menjadi program baru agar tercipta Pendidikan yang lebih maju. Bagaimana tolak ukur Pendidikan yang lebih maju itu sendiri? Menurut saya adalah jika para pembelajarnya mampu berpikir secara kritis dan kreatif tanpa didikte lagi oleh buku atau guru.

Sebelum lebih jauh membahas bagaimana kebijakan tersebut, maka kita pahami dulu bersama mengenai pengertian Kampus Merdeka itu yang seperti apa sih? Lalu apa kelebihan dan kekurangannya jika diterapkan di Negara Indonesia?

 

Sumber Gambar : www.dikti.kemdikbud.go.id

Pengertian Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar

Ada baiknya kita pahami dulu pengertian kampus merdeka menurut Kemendikbud karena lembaga Pendidikan di bawah pimpinan Menteri Nadiem Makarim itulah dimana ide kebijakan itu terlahir untuk mewujudkan Pendidikan di Indonesia yang lebih baik.

Pada tahun 2020 konsep Merdeka Belajar ini yang selanjutnya melahirkan kebijakan Kampus Merdeka. Awalnya Merdeka Belajar sengaja dibuat untuk lebih berfokus pada peningkatan kualitas Pendidikan di perguruan tinggi. Paket kebijakan Kampus Merdeka ini menjadi langkah awal dari rangkaian kebijakan untuk perguruan tinggi. Ini tahap awal untuk melepaskan belenggu agar lebih mudah bergerak.

Lalu apa pengertian Kampus Merdeka itu sendiri? Berikut ini penjelasannya yang saya dapatkan dari website resmi Kemendikbud.

Pengertian Kampus Merdeka

1.       Otonomi bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS)

Yakni otonomi untuk melakukan pembukaan atau pendirian program studi (prodi) baru. Otonomi ini diberikan jika PTN dan PTS tersebut memiliki akreditasi A dan B, dan telah melakukan kerja sama dengan organisasi dan/atau universitas yang masuk dalam QS Top 100 World Universities. Pengecualian berlaku untuk prodi kesehatan dan pendidikan. Ditambahkan oleh Mendikbud, “Seluruh prodi baru akan otomatis mendapatkan akreditasi C”. Lebih lanjut, Mendikbud menjelaskan bahwa kerja sama dengan organisasi akan mencakup penyusunan kurikulum, praktik kerja atau magang, dan penempatan kerja bagi para mahasiswa. Kemudian Kemendikbud akan bekerja sama dengan perguruan tinggi dan mitra prodi untuk melakukan pengawasan. “Tracer study wajib dilakukan setiap tahun. Perguruan tinggi wajib memastikan hal ini diterapkan,” ujar Menteri Nadiem.

2.       Program re-akreditasi otomatis

Program re-akreditasi bersifat otomatis untuk seluruh peringkat dan bersifat sukarela bagi perguruan tinggi dan prodi yang sudah siap naik peringkat. Mendatang, akreditasi yang sudah ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tetap berlaku selama 5 tahun namun akan diperbaharui secara otomatis. Pengajuan re-akreditasi PT dan prodi dibatasi paling cepat 2 tahun setelah mendapatkan akreditasi yang terakhir kali. Untuk perguruan tinggi yang berakreditasi B dan C bisa mengajukan peningkatan akreditasi kapanpun. “Nanti, Akreditasi A pun akan diberikan kepada perguruan tinggi yang berhasil mendapatkan akreditasi internasional. Daftar akreditasi internasional yang diakui akan ditetapkan dengan Keputusan Menteri,” tambahnya. Evaluasi akreditasi akan dilakukan BAN-PT jika ditemukan penurunan kualitas yang meliputi pengaduan masyarakat dengan disertai bukti yang konkret, serta penurunan tajam jumlah mahasiswa baru yang mendaftar dan lulus dari prodi ataupun perguruan tinggi.

Kebebasan bagi PTN Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi PTN Badan Hukum (PTN BH).

Kemendikbud akan mempermudah persyaratan PTN BLU dan Satker untuk menjadi PTN BH tanpa terikat status akreditasi.

3.       Hak belajar selama 3 semester di luar prodi studi

Memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi dan melakukan perubahan definisi Satuan Kredit Semester (sks). Perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela, jadi mahasiswa boleh mengambil ataupun tidak sks di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara dengan 40 sks. Ditambah, mahasiswa juga dapat mengambil sks di prodi lain di dalam kampusnya sebanyak satu semester dari total semester yang harus ditempuh. Ini tidak berlaku untuk prodi kesehatan. Di sisi lain, saat ini bobot sks untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas sangat kecil dan tidak mendorong mahasiswa untuk mencari pengalaman baru, terlebih di banyak kampus, pertukaran pelajar atau praktik kerja justru menunda kelulusan mahasiswa. Lebih lanjut, Mendikbud menjelaskan terdapat perubahan pengertian mengenai sks. Setiap sks diartikan sebagai ‘jam kegiatan’, bukan lagi ‘jam belajar’. Kegiatan di sini berarti belajar di kelas, magang atau praktik kerja di industri atau organisasi, pertukaran pelajar, pengabdian masyarakat, wirausaha, riset, studi independen, maupun kegiatan mengajar di daerah terpencil. Setiap kegiatan yang dipilih mahasiswa harus dibimbing oleh seorang dosen yang ditentukan kampusnya. Daftar kegiatan yang dapat diambil oleh mahasiswa dapat dipilih dari program yang ditentukan pemerintah dan/atau program yang disetujui oleh rektornya.  

Ketiga pengertian Kampus Merdeka di atas yang mengubah kurikulum Pendidikan di perguruan tinggi saat ini. Menurut pendapat saya melihat latar belakang Pendidikan yang dimiliki oleh Menteri Nadiem Makarim, Pendidikan pascasarjana dan meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Business School, sangat memungkinkan untuk mengaplikasikan ilmunya untuk Indonesia.

Namun tentunya perubahan tersebut perlu melihat bagaimana kondisi masyarakat Indonesia dan ketersediaan infrastruktur untuk mendukung proses belajar dengan kebijakan Kampus Merdeka. Masing-masing perlu memahami pengertian Kampus Merdeka yang dikonsepkan di atas agar bisa diimplementasikan bersama. 

Kondisi masyarakatnya pun terbagi menjadi dua, masyarakat sebagai mahasiswa perguruan tinggi dan masyarakat sebagai pengajar/dosen di perguruan tinggi. Nah, sudah mampukah kita memenuhi syarat implementasi kebijakan tersebut. Apakah mahasiswanya sudah siap menerima kebijakan baru? Apakah dosen sudah siap memberikan pembelajaran dengan konsep baru?

 

Sumber Gambar : www.sevima.com

Pengertian Kampus Merdeka : Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan Kampus Merdeka

1.       Menjadikan dunia perkuliahan lebih fleksibel

Untuk menciptakan pendidikan yang lebih fleksibel dan lebih baik, Menteri Pendidikan Indonesia Nadhiem Makarim mengungkapkan bahwa tujuan utama dari program merdeka belajar adalah melepas belenggu kampus agar lebih mudah bergerak. Sehingga para mahasiswa bisa belajar lebih dalam mengetahui peranya sebagai mahasiswa dengan baik.

2.       Memberikan kesempatan mahasiswa untuk mendalami studi yang diambil

Dalam proses penerapan merdeka belajar, mahasiswa diajarkan untuk lebih mendalami mata kuliah pada studi yang diambil. Seperti halnya melakukan penelitian dan research secara mendalam pada mata pelajaran yang diampu. Hal ini tentunya berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam penelitian dan pengembangan.

Apabila mahasiswa mampu mendalami studi yang diambil, pasti akan membawa hawa segar bagi perguruan tinggi dan tentunya bagi mahasiswa itu sendiri. Selain ilmu yang sudah didapat, pengalaman pun juga akan membuat mereka lebih maju dan memiliki pemikiran yang luas.

3.       Memberikan wadah kepada mahasiswa untuk terjun ke masyarakat

Kesempatan emas pada program ini bisa didapatkan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Kesempatan ini dinilai mampu mewadahi mahasiswa untuk lebih berkompeten dan terjun langsung ke lingkungan masyarakat.

Tak hanya itu, mahasiswa nantinya akan memberikan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat sekitar. Sehingga mahasiswa yang terjun langsung di masyarakat ini akan mampu dan siap menerapkan diri di lingkungan masyarakat.

4.       Bisa mempersiapkan diri untuk terjun di dunia kerja

Program merdeka belajar memang sangat cocok dan pantas untuk mempersiapkan para mahasiswa ke dunia kerja. Mahasiswa diharapkan akan menyesuaikan diri mereka di lingkungan luar kampus, seperti halnya di dunia kerja. Kegiatan tersebut bisa dilakukan melalui program PKL atau magang secara berkala.

 

Kekurangan Kampus Merdeka

1.       Dinilai belum begitu matang dalam persiapan

Bukan menjadi suatu rahasia lagi, bila program pendidikan selalu berubah-ubah sesuai dengan menteri yang sedang menjabat. Maka dari itu, program merdeka belajar ini dikhawatirkan akan berganti lagi bila menteri yang menjabat akan berganti.

Selain itu, program merdeka belajar ini juga masih seumur jagung. Usai dicetuskan oleh Menteri Pendidikan Indonesia, merdeka belajar masih perlu dilakukan pembaruan dan research yang lebih dalam menerapkannya.

2.       Pendidikan dan pengajaran yang belum terencana dengan baik

Diulas dalam ideapers.com, prosedur pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam merdeka belajar belum mengulas tentang upaya peningkatan kualitas pendidikan yang dinilai cukup problematic.

Sementara dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 2012, pendidikan di Indonesia sendiri sedang berupaya meningkatkan sistem pembelajaran untuk mewujudkan suasana belajar bagi para peserta didik agar lebih aktif dalam meningkatkan kemampuannya di segala bidang. Mulai dari kepribadian, softskill, ketrampilan, hingga bela Negara.

Sehingga bisa dikatakan bahwa program merdeka belajar belum mengarah kepada sistem pendidikan dan pengajaran yang terencana dengan baik.

3.       Persiapan SDM yang belum terstruktur

Program baru dalam dunia pendidikan tentunya membutuhkan sistem yang terstruktur dan sistematis. Namun, program merdeka belajar ini dinilai masih sangat baru dan belum cukup kuat untuk menyiapkan SDM sebagai pelaksana dalam program ini.

Seperti yang kita tahu, mencanangkan suatu program baru, pasti memerlukan sosialisasi dan persiapan yang cukup matang untuk para eksekutor di program merdeka belajar ini. Maka, bisa dipastikan bahwa program merdeka belajar masih perlu menyiapkan para tenaga ahli dan sosialisasi yang matang agar bisa berjalan dengan baik.

 

Pengertian Kampus Merdeka : Kesimpulan

Melihat dari bagaimana konsep kebijakan Kampus Merdeka untuk menindaklanjuti program Merdeka Belajar oleh Menteri Nadiem Makarim tersebut dan apa kelebihan serta kekurangan untuk Pendidikan di Indonesia, maka saya menyimpulkan bahwa kita perlu berproses dalam implementasi kebijakan baru tersebut untuk mengubah wajah Pendidikan di kampus.

Meski masih banyak terjadi pro dan kontra dalam menanggapi kebijakan tersebut, tetapi bukan berarti kita menjadi pesimis untuk menjadikan Pendidikan di Indonesia lebih maju. Kesiapan kebijakan akan semakin matang jika dilakukan secara konsisten dan adanya evaluasi terhadap kebijakan. Kesiapan dari masyarakat, khususnya mahasiswa pun, akan meningkat jika dibiasakan dengan budaya Pendidikan yang baru. Ini hanya soal waktu yang membuat masa transisi ini menjadi begitu membingungkan dan terasa tidak sinkron.

Pengertian Kampus Merdeka dimana mendukung Merdeka Belajar yang bertanggung jawab merupakan PR kita semua dalam implementasinya untuk membuat Pendidikan di Indonesia semakin berkualitas dan maju.

 

 

Posting Komentar untuk "Pengertian Kampus Merdeka : Wajah Baru Pendidikan Indonesia"