Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kesadaran Diri yang Otentik


Sumber Gambar : www.facebook.com

Sepagi ini tak biasanya saya terbangun kalau bukan karena bunyi jam alarm. Masih pukul 02.55 WIB, lebih cepat 5 menit dari alarm yang saya pasang.

Pikiran saya pun sudah tak pada tempatnya, mulai menyusun satu per satu kejadian atau rencana apa yang harus  ditulis.

Mulai saya membuka internet di hp dan mengetikkan nama Dana Zakaria Hasibuan. Bukan suatu yang tanpa sebab akhirnya saya memilih nama itu.

Dia adalah almarhum sepupu, keponakan budhe yang merupakan istri pakdhe (kakak kandung ibukku). Dari silsilah itu terlihat bahwa hubungan kami tidak dekat. Tapi tunggu… apa yang saya gunakan dengan istilah hubungan tak dekat ini ternyata hanya soal darah.

Kedekatan seharusnya bukan soal darah. Kedekatan yang tulus tak dilahirkan karena sedarah tapi lebih dari itu. Maaf jika saya baru menyadarinya kini.

Ada yang menarik dari dirinya ketika saya mencari tentang siapa sebenarnya sosok almarhum. Sayangnya, saya tidak memberikan kesempatan pada waktu untuk bisa kenal lebih dekat dengannya. Meski kami sekampus, satu fakultas, dan hanya beda satu angkatan. Saya di Jurusan Ilmu Pemerintahan sedangkan almarhum di Jurusan Sosiologi.

Pertemuan pertama kami di selasar Fisipol UGM saat aku sedang ospek. Tiba-tiba mendekatiku dan bertanya, “kamu namanya Ditha ya?”

“Iya, mas.”

Tanpa sempat saya bertanya lagi karena dia terlihat lebih senior (maklum waktu itu saya masih junior dan pas ospek pula, takut salah nanya), dia berkata,”Aku Dana. Keponakan Budhe Chitra”.

Setelah mengenalkan diri yang hanya bisa saya tanggapi dengan senyuman, Mas Dana kemudian pergi karena tahu saya pun baru diospek.

Dan itulah sekilas perkenalan kami yang tak pernah berlanjut lagi bahkan sampai saya lulus. Ketemu sih iya di kampus, tapi papasan hanya saling senyum gitu aja.

Pertemuan itu Agustus 2008. Dan sepuluh tahun kemudian saya mendapatkan kabar dari Pakdhe bahwa Mas Dana meninggal dunia.

Sejak itu saya malah mulai mencari sosoknya, melalui berbagai jejak digital tentunya, sosmednya dan artikel-artikel di website UGM.

Tidak disangka orang yang awalnya memberi kesan nggak serius karena waktu kuliah saya bertemu Mas Dana dengan potongan rambutnya yang kadang bergaya cepak, gondrong tak beraturan dan gaya bergaulnya yang khas anak muda dari Jakarta. Ternyata Mas Dana melanjutkan kariernya sebagai dosen di Jurusan Sosiologi UGM.

Bagaimana Mas Dana berdedikasi untuk kampus dan dunia Pendidikan sedikit membuka pikiran saya bahwa untuk memulainya bisa siapa saja. Namun masih ada satu hal yang mengganjal, Mas Dana bisa lanjut kuliah S2 karena dia pun punya privelege, seperti ibunya yang juga lulusan S2.

Pemikiran yang menurut saya kini terlalu naif. Siapa yang sangka seseorang bisa kuliah di luar negeri karena orang tuanya kaya. Masalahnya bukan kaya atau tidak kaya, tapi bagaimana dukungan lingkungan, terutama keluarganya. Privelege ini juga menjadi salah satu kendala saya untuk bisa berkembang, mungkin Anda pun merasa demikian.

Saya memang sulit untuk melanjutkan kuliah karena berbagai alasan yang salah satunya saya merasa tak memiliki support system, terutama dari lingkungan keluarga besarku. Bukan juga karena kesempatan karena kesempatan selalu ada tapi saya tidak memilihnya.

Kembali saya mencari sosoknya seperti ada sesuatu yang perlu dipelajari dari almarhum Mas Dana. Tak banyak artikel yang ditemukan mengenai dirinya.

Namun saya ingin membagikan satu pemikiran Mas Dana yang waktu itu ditulis menjadi sebuah artikel berjudul “Kesadaran Diri”. Anda yang bisa membaca artikel selengkapnya di sini.

Saya tidak akan mereview pemikiran almarhum di ranah keilmuannya, karena bukan kapasitas saya untuk membahasnya. Yang saya tahu sebagai seseorang yang concern terhadap isu-isu politik post colonial, Mas Dana mencoba menghubungkan relasi antara kesadaran diri dan kekuasaan.

Mas Dana menuliskan bahwa cara kita melangkah lah yang membedakan antara kesadaran diri yang diatur oleh kekuasaan dengan kesadaran diri yang muncul dari hasil pemikiran kritis. Dan saya merasa tulisan ini sangat mengena sekali pada kehidupan yang dijalani.

Dengan mengutip dan mengkritisi pandangan filsuf, seperti Karl Marx, Louis Althusses, dan Foucault, Mas Dana mampu menghadirkan pemahaman sederhana bagaimana kesadaran diri itu tidak bisa begitu saja terbentuk tetapi melalui proses yang cukup panjang dan tidak mudah.

Saya coba menghubungkannya pada kehidupan sehari-hari yang membuatku ingin bebas tapi ternyata sungguh sangat sulit. Seperti ada tembok-tembok yang tak terlihat tapi bisa membuat saya terbentur setiap kali melewatinya dan pada akhirnya memilih tak bergerak, kembali pada tempatnya semula. Seperti itulah yang saya alami.

Tidak bisa dibentuk begitu saja bukan lantas tidak mungkin bisa berubah. Itulah yang saya pahami dari bagaimana Mas Dana mencoba menjelaskan sanggahan Foucault, murid Althusser, yang memberikan perspektif lain dari kekuasaan eksternal yang coba membelenggu kesadaran diri, istilah Faucoult ‘subjek yang hampa’. Kesadaran diri manusia yang hakiki sebenarnya adalah kekosongan.

Inilah yang Mas Dana simpulkan dari penjelasannya,

Pada saat kita memutuskan untuk menata hidup menurut versi kita sendiri, di titik itulah kita sebenarnya sedang mempraktekkan kesadaran diri yang otentik.

Kalimat di atas seolah memberikan kekuatan pada diri saya yang sedang berjuang untuk bertemu dengan diri saya yang otentik dan bersatu. Saya tidak ingin lagi bagian-bagian dari diri ini berpisah dan memilih jalan sesuai keinginan orang lain.

Menurut saya kesadaran diri itu sangat penting untuk menjalani kehidupan. Meski kekuatan eksternal akan selalu ada karena kita berada dalam system sosial. Seperti yang dikatakan Mas Dana bahwa untuk keluar dari itu semua adalah dengan memilih bagaimana cara kita melangkah.

Efek dari kesadaran diri itu akan selalu ada, seperti nyinyiran orang terhadap diri kita. Tetapi tidak akan berdampak pada esensi betapa pentingnya kesadaran diri.

Dari sinilah bagaimana saya yakin untuk bisa menuliskan pemikiran-pemikiran almarhum Mas Dana menjadi sebuah buku nantinya. Karena saya yakin pemikiran dan pelajaran hidup almarhum akan sangat berguna bagi kita. Mungkin secara pribadi dulu tak sempat saya mengenal dan menyelami pemikiran berlianmu itu, mas. Tapi semoga saya masih diberi waktu untuk menuliskannya dari jejak-jejak yang kau tinggalkan.

Selain itu, kita pun harus menghargai legacy yang ditinggalkan demi kehidupan manusia yang lebih baik. Saya ingin membagikannya sehingga bisa mengena juga dihati insan lain.

Tulisan Mas Dana tentang kesadaran ini menjadi sangat relate ketika kemarin saya mempelajari pengetahuan tentang Jiwa yang diberikan oleh seorang teman yang berkarier sebagai psikolog. Mengetahui jiwa tak seperti membaca buku. Butuh proses yang tidak sebentar untuk bisa mengenal jiwa dan kemudian memahaminya.

Mengetahui seperti apa jiwa kita adalah kesadaran diri yang otentik, dimana tidak terganggu oleh kekuatan eksternal. Misalnya apa yang dikatakan orang dengan menyebut diri kita orang yang pemalu, orang yang pemarah, dll ternyata itu bukan diri kita yang otentik. Bahkan ketika kita menyebutkan kekuatan dan kelemahan kita itu semua hanyalah pakaian dari jiwa, bukan jiwa itu sendiri.

Jadi tidak perlu cemas dengan pelabelan orang-orang terhadap diri kita karena yang mengenal sepenuhnya siapa diri kita adalah kita sendiri. Anggap saja itu efek dari kekuatan eksternal yang mencoba mengintervensi diri kita, mengkooptasi, dan mengendalikan diri kita sehingga kesadaran diri kita terbentuk karena pola sosial yang berulang.

Tembok fana yang membuat saya terbentur setiap kali dilewati itu pun ternyata hanya konstruksi pemikiran kesadaran yang dibentuk oleh system sosial. Artinya itu fana, tembok itu tidak nyata, dan hanya dalam pikiran. Maka saya meyakinkan diri saya bahwa kapanpun saya mau tembok itu bisa dirobohkan begitu saja tanpa takut kekuatan eskternal yang mencoba mengendalikan.

Ya… dan itu semua hanya ketakutan belaka. Terima kasih Mas Dana atas penjelasan dan kekuatan untuk menemukan kesadaran diri yang otentik. Semoga engkau tenang di sisi-Nya.

Posting Komentar untuk "Kesadaran Diri yang Otentik"