Widget Atas Posting

Kisah Inspiratif Sahabat Nabi Tentang Kebaikan

Para sahabat Nabi yang juga disebut Ulul ‘Amri adalah orang-orang yang menjadi saksi atas kebaikan Nabi Muhammad SAW yang kehidupannya merupakan teladan bagi kita umat Muslim. Kisah inspiratif Sahabat Nabi tentang kebaikan juga pastinya banyak pelajaran yang dapat kita petik hikmahnya.

Berikut ini tiga kisah inspiratif Sahabat Nabi tentang kebaikan yang bisa Anda sima, yaitu kisah dari Abu Darda, Abu Bakar, dan Sya’ban.

 


 

Kisah Inspiratif Sahabat Nabi Tentang Kebaikan – Abu Darda

Abu Darda memiliki nama asli Uwaimir bin Malik. Sebelum memeluk Islam, Abu Darda adalah seorang yang terkenal menyembah berhala. Dia bahkan memberikan berhala itu pakaian yang bagus dan parfum yang mahal.

Hingga suatu hari, saudaranya Abdullah bin Rawahah datang merusak dan membuang berhala itu. Melihat berhalanya hilang, Abu Darda marah dan ingin membalas tindakan Abdullah.

Namun, tiba-tiba Abu Darda tersadar dan mendapat hidayah dari Allah SWT. Dia menyadari berhala itu tak mampu membelanya dan menolongnya dari Abdullah. Dia pun beriman kepada Allah dan menjadi pengikut Rasulullah.

Abu Darda yang merupakan seorang pedagang sukses pun meninggalkan pekerjaannya demi bisa beribadah kepada Allah SWT.

"Aku masuk Islam di hadapan Nabi Muhammad SAW dan aku adalah seorang pedagang. Aku ingin menggabungkan perdagangan dengan ibadah, tapi tidak berhasil. Karena itu, aku tinggalkan perdagangan dan fokus untuk beribadah," kata Abu Darda, dikutip dari Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid.

Sejak memeluk Islam, Abu Darda tak pernah berhenti belajar. Dia selalu merenung dan berpikir. Abu Darda berguru pada Nabi Muhammad SAW hingga dia menjadi seorang ahli hikmah.

Di masa Nabi, pendapat Abu Darda sang ahli hikmah jadi pegangan umat Islam. Dia selalu menyeru kepada kebaikan.

"Janganlah engkau makan, kecuali yang baik. Janganlah engkau bekerja, kecuali yang baik, dan janganlah makan kecuali yang baik," kata Abu Darda.

Pada masa khalifah Usman bin Affan, Abu Darda dipercaya menjadi hakim di Syam. Dia menjadi hakim yang disegani.

"Janganlah membebankan kepada manusia yang sebenarnya tidak dibebankan kepada mereka! Jangan menghisab manusia mendahului Tuhan mereka," ucap Abu Darda.

Dalam menegakkan kebenaran, Abu Darda tak pernah membenci seseorang. Baginya, setiap orang adalah bersaudara.

Pernah suatu ketika Abu Darda bertemu dengan seorang laki-laki yang berdosa. Semua orang mencelanya, kecuali Abu Darda.

"Aku hanya benci perbuatannya. Jika dia meninggalkan perbuatan itu, dia adalah saudaraku," ucap Abu Darda.

Abu Darda menghabiskan sisa hidupnya di Syam. Abu Darda, sahabat nabi yang ahli hikmah ini meninggal dunia saat berusia 72 tahun. Hingga saat ini hikmah-hikmah dari Abu Darda masih digunakan umat Islam.

 

 

Kisah Inspiratif Sahabat Nabi Tentang Kebaikan – Abu Bakar dan Nenek Tua

Siapa yang tidak mengenal sahabat Nabi Abu bakar Ash-Shiddiq, ia merupakan salah satu orang sangat dicintai oleh Nabi. Hidupnya dihabiskan untuk selalu menemani Rasulullah dalam menyampaikan dakwah kepada umat manusia. Setelah Nabi meninggal dunia ia sebagai khalifah pertama yang menggantikannya. Begitu banyak kisah-kisah kebaikan yang telah dilakukan oleh Abu bakar, bahkan ia tak segan untuk memberikan semua hartanya untuk di belanjakan di jalan Allah.

Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhuma merupakan sahabat nabi yang sangat gemar dalam bersaing untuk melakukan hal-hal kebaikan. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan mendapatkan pahala yang besar di akhirat kelak.

Ketika Umar bin khattab  mengawasi apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, Lalu ia melakukan amalan tersebut melebihi apa yang dilakukan oleh Abu bakar sehingga ia mendapatkan kebaikan dan berbuat lebih apa yang dari Abu Bakar lakukan.

Sesuatu hal telah menarik perhatian Umar, sehingga pada suatu pagi Umar ingin mengawasi Abu Bakar. Ia mengikuti Abu bakar pergi ke pinggiran kota madinah setelah selesai melaksanakan sholat subuh. Abu Bakar pergi ke pinggiran kota madinah untuk mendatangi sebuah gubuk kecil, Umar hanya melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Kemudian setelah beberapa saat Abu bakar pun pergi meninggalkan gubug tersebut. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan oleh Abu bakar kecuali apa yang ia lakukan di dalam gubuk kecil tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, Umar pun semakin penasaran dengan apa yang dilakukan sahabatnya di dalam gubuk tersebut. Ia kembali mengikuti Abu bakar pergi ke pinggiran kota madinah tersebut. Ia ingin menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya apa yang dilakukan oleh sahabatnya di dalam gubuk kecil tersebut. Setelah Abu bakar pulang, ia segera masuk ke dalam tempat tersebut.

ketika sang Umar masuk ke dalam tempat tersebut, ia mendapatkan seorang nenek tua yang terbaring lemah tanpa bisa melakukan aktivitas. Nenek tersebut juga buta kedua matanya sehingga ia tidak bisa melihat. Umar  melihat tidak ada sesuatu apapun di dalam gubuk kecil tersebut. Umar pun heran dengan apa yang ia lihat, ia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di rumah nenek tua buta tersebut.

Umarpun bertanya kepada sang nenek , “Apa yang dilakukan orang tersebut di sini?” Nenek itu menjawab, “Demi Allah, Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku dan menyapunya, kemudian ia menyiapkan makanan untukku, kemudian ia pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

mendengar apa yang dikatakan oleh nenek tersebut, Umar pun menangis. Ia kagum dengan dengan amalan yang dilakukan oleh sahabatnya, seorang khalifah islam rela memberikan makan dan membersihkan rumah nenek tua setiap pagi.

Dari kisah di atas dapat kita simpulkan bahwa seorang pemimpin besar pun harus memperhatikan orang lain, kepemimpinannya tidak menghambat ia untuk berlaku baik kepada orang lain. Semua amal kebaikan yang ia lakukan merupakan bentuk kecintaannya kepada Allah dan rasulnya.

 

Kisah Inspiratif Sahabat Nabi Tentang Kebaikan – Sya’ban r.a

Sya’ban r.a. namanya. Sahabat Rasulullah yang amalnya begitu cemerlang di hadapan Allah Swt. Karena tiga hal, Sya’ban ra. menuturkan di akhir hidupnya untuk totalitas beramal.

Pertama, mengapa tidak lebih jauh. Kedua, mengapa tidak yang baru. Ketiga, mengapa tidak semuanya. Pesan tersebut disampaikan kepada istrinya kala itu.

Dikisahkan seorang sahabat Rasulullah saw., Sya’ban ra. yang memiliki kebiasaan unik. Dia datang ke masjid sebelum waktu salat berjemaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiap salat berjemaah dan iktikaf.

Alasannya, ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini sudah dipahami oleh semua orang, bahkan Rasulullah sendiri.

Pada suatu pagi, saat salat Subuh berjemaah akan dimulai, Rasulullah saw. merasa heran karena tidak mendapati Sya’ban ra. pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jemaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihat Sya’ban ra.

Salat Subuh pun sengaja ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban. Namun, yang ditunggu belum datang juga. Karena khawatir salat Subuh kesiangan, Rasulullah pun memutuskan untuk segera melaksanakan salat Subuh berjemaah. Hingga salat Subuh selesai pun Sya’ban belum datang juga.

Selesai salat Subuh, Rasul pun bertanya lagi, “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Rasul pun bertanya lagi, “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?” Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia tahu persis di mana rumah Sya’ban.

Rasulullah sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya tersebut, sehingga beliau meminta diantarkan ke rumah Sya’ban.  Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.

Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya’ban pada waktu salat Duha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya’ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” tanya Rasulullah.

“Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya,” jawab wanita tersebut.

“Bolehkah kami menemui Sya’ban ra, yang tidak hadir salat Subuh di masjid pagi ini?” ucap Rasul.

Dengan berlinangan air mata, istri Sya’ban ra. menjawab, “Beliau telah meninggal tadi pagi.”

“Innaalillaahi wainnaailaihi raji’uun,” jawab semuanya.

Masyallah, konsisten salat Subuh berjama’ah tanpa absen. Hanya sekali Sya’ban tidak ikut berjemaah bersama Rasulullah, dan penyebabnya adalah karena ajal menjemputnya.

Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban ra. bertanya, “Ya Rasulullah, ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua. Menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.

 “Di masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh, kenapa tidak yang baru, aduh, kenapa tidak semuanya’,” jawab istri Sya’ban.

“Saat Sya’ban r.a. dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Swt. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Swt. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra. (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain.

Dalam padangannya yang tajam itu, Sya’ban r.a. melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi-pulang ke masjid untuk salat berjemaah lima waktu. Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki, tentu bukan jarak yang dekat.

Dalam tayangan itu pula Sya’ban r.a. diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah.

Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat itulah, dia berucap “Aduh, kenapa tidak lebih jauh?”. Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban. Mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah.

Ternyata oleh Allah Swt., amal unggulan Sya’ban dengan menempuh jarak yang begitu jauh dari rumahnya dicatat sebagai amal cemerlang, sempurna di mata Allah.

Inilah mengapa Sya’ban menuturkan kepada istrinya saat terakhir sebelum wafat, kenapa tidak lebih jauh perjalanan yang kutempuh menuju masjid untuk salat subuh berjemaah apabila ini dicatat sebagai amal terbaik, amal cemerlang.

Dalam penggalan kalimat berikutnya, Sya’ban r.a. melihat saat ia akan berangkat salat berjemaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu, berembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju luar tersebut dan salat dengan baju yang lebih bagus (baju di dalam).

Ketika dalam perjalanan menuju masjid, dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar (baju butut) lalu dipakaikan kepada orang tersebut, kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan salat Subuh bersama-sama.

Orang itu pun selamat dari mati kedinginan, bahkan sempat melakukan salat Subuh berjemaah. Sya’ban r.a. pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.

Kemudian, dia berteriak lagi “Aduh, kenapa tidak yang baru?”. Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban r.a. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Amal kebaikan kedua ini pun ternyata juga dicatat oleh Allah Swt. sebagai amal terbaik Sya’ban. Sya’ban bersedih dan berkata, “Kenapa tidak yang baru yang bisa kuberikan?” ucapnya.

Berikutnya, Sya’ban r.a. melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu (bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukuran roti Arab sekitar tiga kali ukuran rata-rata roti Indonesia).

Ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal itu, Sya’ban r.a. merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah Swt. kemudian memperlihatkan Sya’ban r.a. dengan surga yang indah.

Ketika melihat itu pun Sya’ban r.a. teriak lagi “Aduh, kenapa tidak semuanya!” Sya’ban ra. kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah.

Nah, lagi-lagi Allah Swt. mengapresiasi  apa yang sudah dilakukan Sya’ban sebagai amal cemerlang. Lalu, Sya’ban menuturkan mengapa tidak semuanya saja kuberikan makanan itu.

Subhanallah, sahabat Sya’ban begitu dicintai Allah Swt. lewat amal-amal cemerlangnya. Amal unggulan yang disuguhkan kepada Allah Swt. tanpa pamrih. Hanya untuk meraih rida-Nya. Amal totalitas tanpa batas, untuk Allah yang Maha pantas dimuliakan.

Kita sebagai hamba-Nya sudahkah punya amal unggulan yang cemerlang di hadapan Allah Swt. Amal cemerlang yang kita hadiahkan untuk Allah Swt. agar kita kelak pantas dipanggil menjadi golongan penduduk surgaNya.

Sesungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan, ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatan di dunia. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan.

 

Ketiga cerita dari para Ulul ‘Amri di atas semoga bisa membawa berita gembira untuk Anda. Jika Anda mendapatkan hikmah kebaikannya, maka silahkan share kisah inspiratif sahabat Nabi tentang kebaikan tersebut sebanyak-banyaknya agar yang merasakan kebaikan tidak terputus pada diri Anda.

 

Referensi :

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210330121105-284-623790/kisah-abu-darda-sahabat-nabi-yang-ahli-hikmah

https://infakyatim.id/inspirasi/kisah-abu-bakar-dan-nenek-tua

https://sdmugres.sch.id/artikel-ismu/kisah-sahabat-rasulullah-dengan-amal-kebaikan-yang-istimewa/

Posting Komentar untuk "Kisah Inspiratif Sahabat Nabi Tentang Kebaikan"