Cara Menyembuhkan Inner Child yang Terluka dengan Memahami Terjemahan Tafsir Surat Yasin

Seringkali diri mempertanyakan kenapa
itu terjadi padaku? Mengapa aku? Apa salahku?

Ingatan masa kecil pun sulit
terhapus mengenai adanya luka batin yang sudah terlanjur ada. Bertahun-tahun
coba disembuhkan melalui serangkaian cara untuk melupakannya. Namun ternyata
itu bukan lah cara yang tepat rupanya.

Saya mencoba menyembuhkan kenangan-kenangan
yang tidak saya sukai di masa lampau dengan melupakannya, dengan
mengabaikannya. Bahkan saat itu saya pernah membenci dan menyalahkan orang lain
atas apa yang terjadi pada diri saya. Seandainya waktu itu mereka tidak seperti
ini dan itu. Mungkin Anda pun juga merasakan hal yang sama.

Namun menyalahkan dan membenci
orang yang telah menyakiti saya justru tidak menyembuhkan, malahan membuat luka
itu semakin dalam. Ibarat luka yang belum sembuh tetapi sudah coba digores
lagi, meski goresannya kecil tapi sakitnya tetap luar biasa. Pernah nggak
seperti itu? Diri kita jadi lebih sensitif sehingga lebih mudah merasa sakit
hati.

Itu adalah sebagian curahan hati
saya dalam perjalanan menemukan obat dari luka yang saya miliki selama ini.
Mengapa aku?

Saya pernah mendownload ebook
secara gratis yang berisi tentang terjemahan tafsir Surat Yasin dari website konsultasikitabkuning.com.
Sudah lama sebetulnya saya memiliki ebook tersebut, yaitu sejak awal tahun
2018. Artinya saya memiliki ebook itu sejak saya masih menjadi seorang bankir.

Namun baru kali ini saya mencoba
membuka dan membacanya. Mungkin jika dulu saya membacanya pemahaman itu belum
seperti sekarang ini. Wallahu’alam.

Ebook itu berjudul Terjemahan
Tafsir Surat Yasin karya Syeh Hamami Zadah yang ditulis oleh Ibnu Zuhri. Ebook
yang memiliki 150 halaman itu saya putuskan membacanya setelah saya berniat
untuk bisa memahami isi dari Alqur’an.

Segala persoalan hidup dikatakan
solusinya semuanya ada di dalam Alqur’an dan Hadits. Saya yang merasa tidak
menemukan solusi dari orang-orang dan keadaan di sekitar saya, maka saya berniat
untuk mencari solusinya di dalam Alqur’an.

 

Menyembuhkan Inner Child yang
Terluka Karena Ketidakhadiran Orang tua

Di usia saya yang menginjak 33
tahun saat artikel ini ditulis, saya sudah hidup tanpa kedua orangtua. Ibu
meninggal tahun 2014 dan bapak meninggal tahun 2019. Saya adalah anak tunggal.
Otomatis saya tidak memiliki saudara kandung setelah mereka tinggalkan.

Alhamdulillah saya sudah menikah
di tahun 2016, dengan disaksikan oleh bapak dan ibu mertua saya. Tapi tahun
2019 ibu mertua pun meninggal selisih 3 bulan sebelum bapak saya. Jadilah saya
dan suami sudah tak memiliki kedua orangtua.

Mengapa aku?

Pertanyaan itu selalu terngiang
di kepala saya setiap kali ada kejadian yang tidak mengenakkan. Saya lupa bahwa
semua yang terjadi adalah kehendak Allah SWT.

Dalam ebook Terjemahan Tafsir Surat
Yasin tersebut berisi serangkaian apa yang akan terjadi pada diri kita setelah
memasuki alam kubur, bagaimana perjalanan di Padang Mahsyar kelak, pada waktu
hisab, dan keadaan orang-orang mukmin dan kafir. Namun di awal bacaan saya
menemukan atas pertanyaan saya itu, mengapa aku? Dalam penjelasan awal mengenai
bantahan Allah terhadap orang-orang Quraisy yang mengingkari Kerasulan
Muhammad.

Diceritakan bahwa dalam Surat
Yasin tersebut menjelaskan mengenai kisah hidup Nabi Muhammad sejak lahir yaitu
hikmah dibalik Rasulullah terlahir sebagai anak yatim. Beliau lahir tanpa pernah
mengenal bapaknya, karena bapak beliau, yaitu Abdullah, wafat saat usia Muhammad
masih 2 bulan di dalam kandungan. diusia 6 tahun pun ibunda beliau, Aminah,
wafat dalam perjalanan pulang ke Mekah dari Madinah. Sehingga Nabi Muhammad
sejak kecil diasuh oleh kakeknya, Abdul Mutholib. Diusia 8 tahun pun kakeknya
wafat dan akhirnya diasuh oleh pamannya. Sungguh usia yang masih terbilang
sangat kecil Muhammad harus merasakan kehilangan dan hidup tidak seperti
anak-anak yang lainnya.

Apakah Nabi Muhammad SAW waktu
itu punya ingatan menyakitkan karena tidak tumbuh dengan kedua orangtuanya?

Malaikat pun bertanya pada Allah
SWT kenapa Allah SWT memberikan takdir Nabi Muhammad SAW lahir tanpa mengenal
bapaknya? Siapa yang akan membimbing Nabi Muhammad SAW?

Dan jawaban Allah SWT sangat lah romantis
menurut saya, karena Allah SWT ingin Nabi Muhammad SAW berada di bawah
bimbingan-Nya langsung. Jika orang lain diajari oleh bapak kandungnya, dan
selalu meminta bantuan kepada bapaknya dengan memanggil “ya bapak, ya bapak”,
maka Allah SWT ingin Nabi Muhammad SAW hanya memanggil-Nya “Yaa Rabb, yaa Rabb”.
(Saya akan lampirkan screen shot dari salah satu halaman ebook yang
menceritakan hal tersebut).

Iya, rahasia Allah SWT itu sangat
lah indah. Bagaimana tidak, jika Allah SWT hanya ingin Nabi Muhammad SAW
memanggil nama-Nya dalam segala situasi. Allah SWT telah memilih Nabi Muhammad
SAW.

Seketika itu juga saya pun merasa
Allah SWT juga telah memilih diri saya untuk menjalani takdir hidup ini. Hanya
karena supaya saya hanya meminta dan memanggil nama Allah SWT dan Rasulullah.

Inner child yang terluka yang
selama ini saya simpan seperti mendapatkan obatnya dengan tepat. Mengenai
keresahan saya yang selalu mempertanyakan mengapa ini semua terjadi pada diri
saya.

 

Menyembuhkan Inner Child yang
Terluka Karena Dibully

Istilah bully-ing memang baru
muncul saat ini, dan apakah di zaman Nabi Muhammad SAW juga ada?

Jawabannya ada. Bully-ing itu
juga dialami oleh Nabi Muhammad SAW saat beliau diutus untuk menjadi seorang
Nabi dan Rasul. Banyak yang meragukan, memandang sebelah mata, bahkan mengejek
beliau karena dari latar belakang yang tidak memiliki Pendidikan tinggi. Faktor
tidak hadirnya kedua orang tua dalam kehidupan beliau sejak kecil pun ikut
menjadi bahan celaan orang-orang dimasa itu.

Namun Nabi Muhammad SAW tidak
bersedih hati. Karena Nabi Muhammad SAW mengetahui bahwa kaum Quraisy yang
kafir sudah ditetapkan tidak akan pernah beriman oleh Allah SWT.

Memahami hal ini pun saya
mendapatkan jawaban dari Channel Youtube Nouman Ali Khan Indonesia dimana
beliau pernah memberikan ceramah yang berjudul “Allah memilih”. Jika Allah SWT
yang sudah memilih maka tidak memandang siapa kita dan bagaimana keadaannya.

Seperti yang saya alami, bahwa
banyak teman-teman saya juga yang bekerja di bank konvensional yang masih
menggunakan praktek riba (bunga bank). Tetapi kehidupan mereka baik-baik saja, malahan
banyak juga yang tambah kaya.

Namun ternyata bukan lah kekayaan
harta ukurannya, tetapi ketenangan jiwa lah yang membuat diri kita bahagia.
Rasulullah tetap bahagia apapun kondisinya karena Rasul percaya akan kuasa
Allah SWT. Takdir yang Allah SWT tetapkan sudah yang terbaik. Percayalah!

Jika dulu dan kemarin saya masih
berpikir mengapa aku dan mengapa mereka baik-baik saja. Saya mulai belajar
berpikir bahwa kehidupan ini nafsi-nafsi, yaitu sendiri-sendiri. Allah SWT yang
telah memilih. Malahan saya merasa bersyukur karena dibimbing Allah untuk
menjauhi pekerjaan itu dengan segala ketidaknyamanan. Bagaimana jika hidup saya
baik-baik saja? Pastinya saya masih terjebak dalam fananya dunia dan terus
bergelimang dosa riba.

Selalu ada hikmah yang masih
Allah rahasiakan kepada kita tentang semuanya. Namun belajarlah untuk berbaik
sangka atas ketetapan-Nya. Karena takdir-Nya tak pernah keliru.