Dibalik Kisah "New York" Yang Diperankan Oleh Katrina Kaif

Film yang berjudul “New York” ini memang tergolong film Bollywood. Namun ternyata ada cerita dibalik kisah “New York” yang diperankan oleh Katrina Kaif. Bagi Anda penikmat film – film Bollywood mungkin tidak asing lagi, tapi bagi Anda yang merasa anti dengan film India yang berimage penuh tarian, mungkin film ini bisa jadi referensi untuk sedikit mengubah image dalam benak Anda.


Sebelumnya kita bicarakan dulu tentang pemeran utama dalam film “New York” ini. Film Bollywood ini sukses diperankan oleh John Abraham sebagai Samar Syeikh dan Katrina Kaif sebagai Maya. Siapa yang tak kenal Katrina Kaif? Wanita keturunan Kashmir dan berwajah Eropa ini banyak mencuri hati para pria berkat wajahnya yang tidak biasa jika dibanding artis Bollywood lainnya. Juga karena Katrina Kaif yang dijuluki Queen of Dance ini tentunya pandai menari. Namun dalam film ini tidak ada sama sekali adegan menarinya ya.

Film “New York” berkisah tentang dibalik pasca kejadian pemboman WTC yang dikenal dengan peristiwa 9/11 tahun 2001. Setelah peristiwa tersebut Amerika merasa sangat was-was dan menjadi curiga berlebihan terhadap orang-orang Islam. Ya, mereka berpikir bahwa kejadian tersebut dilakukan oleh para terorisme yang beragama Islam. Mereka hanya tahu bahwa Islam membenci Amerika. Namun ternyata apa yang mereka curigai itu tidak ada buktinya.

Pasca peristiwa 9/11 hingga sekarang tidak pernah diketahui siapa dalang dari pelaku bom tersebut. Dalam film tersebut diceritakan apa yang terjadi pada tahun 2009 ketika FBI mencoba menangkap 1.200 orang Islam dari berbagai negara yang pernah tinggal di Amerika. Mereka ditahan di dalam penjara dan diperlakukan seperti binatang hingga mereka mengakui perbuatan mereka. Namun hingga berbulan-bulan mereka ditahan, FBI dan NYPD tidak menemukan banyak bukti bahwa orang-orang yang mereka tahan lah pelakunya. Samar Syeikh diceritakan sebagai salah satu orang yang menjadi target kecurigaan tersangka teroris.

Bagaimana kehidupan orang-orang pasca ditahan tapi tidak bersalah tersebut ?

Mengambil cerita dari kehidupan Samar Syeikh pasca penahanan tersebut. Karena penyiksaan dan perlakuan yang tidak wajar di dalam penjara, maka dia jadi seperti orang linglung, tidak fokus, dan sempat stres. Di dalam tahanan mereka mengalami penyiksaan yang luar biasa, seperti tidak diberi pakaian lalu digantung dengan posisi kaki di atas untuk kemudian disiksa selama berjam-jam, mereka juga merasakan bagaimana wajah mereka dikotori dengan air kencing para sipir penjara. Mereka pun tidak diperbolehkan untuk dikunjungi.
Samar Syeikh awalnya memiliki kehidupan yang normal. Dia besar di Amerika sejak usia 4 tahun dan lahir di India. Meski begitu dia sangat mencintai Amerika tempat dia dibesarkan. Namun semua itu berubah setelah NYPD menahannya untuk alasan dia beragama Islam.

Maya adalah wanita yang sejak duduk di bangku kuliah sudah menyukai Samar. Dia tahu betul bagaimana sosok Samar yang pandai, mudah bergaul, tapi sedikit arogan karena suka mencari perhatian. Namun itu tak mengubah rasa cintanya pada Samar. Hingga Samar ditahan pun Maya tetap setia menunggu sampai Samar dibebaskan.
Bagaimana Maya membantu Samar untuk menemukan kembali kepercayaan dirinya setelah penahanan yang membuatnya stres dan tidak bisa fokus. Bahkan Maya mengajak Samar menikah meski tahu dia mantan dugaan tersangka teroris, yang artinya dia memiliki catatan hitam dan sulit mencari pekerjaan selain membuat usaha sendiri.

Perlahan Samar pun berubah kembali normal tapi dia tetap memiliki dendam terhadap apa yang telah dilakukan NYPD dan FBI terhadap dirinya dan orang-orang seperti dirinya yang lain. Dia berhasil mengumpulkan orang-orang yang sempat diperlakukan sama seperti dirinya dan memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapatkan kehormatannya kembali.

Namun Samar sempat berubah ketika tahu bahwa Maya mengandung anaknya dan dia tidak ingin melibatkan keluarganya dalam misinya tersebut.

Omar, sebagai teman lama Maya dan Samar sewaktu kuliah kembali menghubungi mereka karena dipaksa oleh FBI untuk menyamar dan menyelidiki Samar. Omar ingin membuktikan bahwa Samar bukan lah teroris seperti yang FBI tuduh, meski dia tahu Samar lah yang telah mencuri wanita pujaannya, yaitu Maya.
Selama Omar menyamar dia akhirnya tahu bahwa Samar memang memiliki tujuan dan tindakannya mengarah pada terorisme. Namun itu semua karena perbuatan FBI sebelumnya yang memperlakukan Samar dan teman-temannya secara tidak layak di dalam penjara. Banyak yang hingga kini korban-korban kecurigaan FBI tersebut menjadi pengangguran, stress, dan susah untuk fokus.

Apa yang bisa kita pelajari dibalik kisah “New York” yang diperankan Katrina Kaif pada tahun 2009 ini?

Dalam kehidupan di dunia ini berlaku sebab akibat. Sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Terkadang kita sulit untuk mengambi keputusan ketika ada sebab yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Seperti pilihan tindakan Samar yang disebabkan oleh kehormatannya yang dirampas oleh FBI dan Amerika. Beberapa dari kita tak bisa begitu saja menyalahkan Samar yang memilih menjadi teroris beneran ketika kita tahu apa alasan dibalik tindakannya.

Hal itu pun tanpa sadar sering kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya pencuri yang akhirnya memilih mencuri karena keadaan di rumahnya yang darurat, keluarganya sudah sangat kekurangan uang. Namun kita pun tetap menjudge bahwa dia adalah pencuri, apapun alasannya.

Ada hal yang bisa dimaklumi dan tidak, tergantung dengan seberapa berpengaruhnya tindakan tersebut bagi orang lain. Namun pada dasarnya kita selalu punya pilihan dan ketahuilah bahwa emosi dan dendam bukan satu-satunya alasan kenapa kita harus bertindak negatif. Ketika otak merangsang untuk melakukannya, kita harus cepat-cepat menyadari bahwa kita sebenarnya punya pilihan lain selain mengikuti rasa dendam dan emosi kita. Kehormatan tidak terletak pada keberhasilan membalas dendam atas perlakuan orang lain terhadap kita yang cenderung sudah menghina dan meremehkan diri kita. Tapi kehormatan terletak bagaimana kita bisa mengambil tindakan lebih bijaksana lagi untuk tidak seperti mereka, karena itu artinya kita respect terhadap diri kita sendiri.

Jika Anda masih penasaran bagaimana jalan cerita “New York” ini, maka tidak ada salahnya untuk melihatnya sendiri. Karena Anda tidak akan menyaksikan seperti film-film Bollywood lainnya.